KILASJATIM.COM, Malang – Sekar memandang bendera di sepanjang jalan. Ia senang melihat bendera berkibar-kibar, menjelang Hari Kemerdekaan, 17 Agustus.
“Bu, ayo pasang bendera. Kata guru di sekolah kita harus memasang bendera mulai sekarang,” pintanya pada ibu sepulang sekolah, Kamis (3/8/2023).
“Mau di pasang di mana? Tidak ada tiang,” jawab ibu sambil menjemur cucian.
“Depan rumah kan bisa.”
“Sebelah mana? Terus motornya Pakde, mau ditaruh mana. Wes ga cukup, bla, bla, bla…,” panjang lebar ibu menjelaskan.
Sekar diam mendengar. Ia menuju teras memeriksa secuil halaman depan rumah yang hanya cukup sebuah motor dan tetangganya lewat saja.
Rumah Sekar berada di belakang rumah orang. Gang kecil yang berkelok, bisa tembus satu gang dengan gang lain. Tidak memiliki tetangga, depan-belakang, kanan-kiri berhadapan dengan dinding. Dingin, lembab sedikit gelap bila malam tiba. Setiap Agustusan, jarang dipasang hiasan. Juga bendera.
Namun, guru di sekolah menyampaikan jika kita wajib memasang bendera di rumah. Sebagai tanda turut merayakan kemerdekaan dan menghargai perjuangan. Tetap saja, rumahnya tidak memasang bendera.
Menurut ibu, selain tidak memiliki tiang, gurunya tidak tahu jika rumahnya tidak pasang bendera. Toh, tidak ada pemeriksaan, seperti gurunya memeriksa PR di sekolah.
Sekar tidak bisa protes. Semua yang dikatakan ibu benar. Ia hanya diam, teringat film Soekarno yang pernah ditayangkan di sekolahnya tahun lalu.
Bagaimana Bu Fatmawati, istri Pak Presiden Sukarno, menjahit potongan kain merah putih di malam hari, untuk dibentangkan esoknya saat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, di depan rumah Jl. Pegangsaan Timur 56.
Peristiwa tersebut diabadikan oleh kakak beradik Frans Mendur dan Alex Mendur fotografer yang memotret peristiwa tersebut. Jika tidak ada mereka mungkin peristiwa kemerdekaan negeri ini tak ada buktinya.
“Bu, kalau tidak ada foto Pak Karno membaca teks proklamasi, mungkin kita tidak punya bukti kalau merdeka,” celotehnya pada ibu yang sibuk di dapur.
Dan, ibu yang tidak tahu atau tidak perduli hanya menjawab iya. Iya tahu atau iya saja. Yang pasti bocah itu terus bercerita tentang Agustusan dan bendera. Dan, saya diam mendengar celotehnya. (tqi)


