Pemkot Surabaya Fokus Peningkatan SDM  

oleh
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat menggelar pertemuan dengan Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Surabaya di rumah dinas wali kota, Jalan Sedap Malam, Selasa 8 Oktober 2019.

KILASJATIM.COM, Surabaya  – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ke depan akan fokus meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini untuk menyiapkan anak-anak Surabaya bisa sejajar dengan anak lain di dunia.

“Karena (menangani) SDM itu memang berat, selalu saya sampaikan beberapa kali ini, itu nanti mereka ke depan harus berhadapan dengan anak-anak di seluruh dunia,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat ditemui di rumah dinas, Selasa 8 Oktober 2019.

Wali Kota Risma mengungkapkan, ketika ia melakukan kunjungan kerja ke Busan, Korea Selatan (Korsel), trend pendidikan di sana terlihat bergerak di semua bidang. Mulai bidang kesenian, industri, hingga teknologi. Makanya, Korsel bisa berkembang pesat dengan sendirinya.

“Sebab ada negara itu yang bergerak di bidang industrinya saja. Tapi di Korsel itu semuanya bergerak,” ungkapnya.

BACA JUGA: Wali Kota Surabaya Terima Sumbangan Raket dan Kaos

Menurutnya, jika semua lini bergerak, maka negara tersebut bisa cepat maju dan berkembang pesat. Namun, saat ini yang paling penting adalah bagaimana berpikir maju untuk 100 tahun ke depan.

“Nah, ini yang sebetulnya aku ingin berikan ke anak-anak, makanya nanti aku coba ketemu dengan kepala-kepala sekolah,” jelasnya.

Walaupun dinilai berat, tapi Wali Kota Risma optimistis bisa melakukannya untuk kemajuan Kota Surabaya. Ia mencontohkan, salah satu tantangan terberatnya misal, selama ini pelajaran matematika terkait dengan ujian dan nilai.

“Tapi tantangan ke depan, bagaimana matematika itu bisa memecahkan misalkan mobil tidak perlu ada sopirnya. Kemudian mungkin rumah ini tidak perlu lagi menggunakan energi dari fosil,” paparnya.

BACA JUGA: Wali Kota Beri Dukungan Langsung Kontingen Kota Kediri di Porprov VI Jatim

Karena itu, Wali Kota Risma menyebut, harus ada waktu sendiri bagi para guru mengajarkan hal itu kepada anak-anak. Sebab, pihaknya mengakui tidak bisa jika harus mengubah pedoman yang sudah diatur pemerintah pusat.

Namun, yang bisa dilakukan saat ini adalah bagaimana mengajarkan anak-anak berpikir untuk 100 tahun ke depan.

“Seperti itu tantangan terberatnya. Nah, itu ke depan tidak mudah bagi para guru. Karena dia (guru) mengajarkan dalam suatu sistem yang pakemnya (pedoman) harus diikuti,” pungkasnya. (banggasurabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *