Karya Pustaka Pun Beranak Pinak

oleh

 

Malang, Kilasjatim.com: “Karya pustaka bisa beranak pinak, dari buku jadi gambar, beraudio visual. Sebab membaca itu tidak harus buku, audio visual pun bagian dari bacaan,”.
Hal ini disampailan Dwi Cahyono, budayawan, sejarawan yang juga dosen di Universitas Negeri Malang dalam diskusi bersama Dinas Perpustakaan Umum Dan Arsip Daerah Kota Malang, dengan tema Mengembngkqn Koleksi Perpustakaan Berdasarkan Kekhasan Daerah di Hotel Savana, Rabu (20/3).

Menurut Dwi, Malang telah menjadi ibu kota negara sejumlah kerajaan sejak zaman pra sejarah, kerajaan hingga masa kolonial. Zaman kerajaan Singasari menjadi pusat kerajaan Sriwijaya. Selain menjadi pusat pendidikan. Ini dibuktikan dengan penemuan arca Amogapasa, Prajanaparamita dan Sudanakumara yang masing-masing membawa buku ditangan maupun di kempit diketiak kirinya.

Selain arca ditemukan pula prasasti Mandala Padjaran, yang artinya pusat pendifikan di Desa Pajaran, Malang Timur. Ini menunjukkan jika Malang menjadi pusat pendidikan sejak zaman kerajaan.

“Jadi kalau saat ini pemerintah tidak melaksanakan amanat tersebut, sama dengan menghianati sejarah,” katanya.
Mengenai minat baca generasi milenial dinilai masih bagus. Namun lebih bagus jika disediakan oleksi audio visual sebagai pengganti buku. Sebab pada masanya nanti buku kurang diminati, bersama perkembangan teknologi. Seperti fasilita vlog, you tube maupun ebook.

Sementara penulis asal Malang Fathul H Panatapraja, menyampaikn generasi milenial itu generasi yang maunya serba cepat. Cepat datang, cepat pergi. Semua itu diperoleh dari media visual.

Menanggapi permasalahan tan tantangan perpustakaan era milenial Sri Umiasih, SE, Plt. Sekretaris Dinas Perpustakaan Umum Dan Arsip Daerah Kota Malang menyampaikan, akan menampung semua masukan dan usulan tersebut pada walikota.

Sedang aktivis dan penggerak literasi dari Museum Musik Indonesia, Abdul Malik, menyampaikan usulan selain Aperpudtakaan berbasis digitas juga adanya penerbitan karya lokal yang menulis tentang Kota Malang. Baik berupa novel, puisi, cerpen maupun hasil penelitian.

“Kami menampung semua anspirasinya semoga bisa terwujud. Kami sudah mengagendakan mengadakan lomba bidang sastra,”. katanya. Titik Qomariyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *