Jumlah Perusahaan Tekstil di Indonesia Cenderung Menyusut

oleh
Wagub Jatim, Dr. Emil Elestianto Dardak foto bersama dengan pengurus baru Ikatsi.

KILASJATIM.COM, Surabaya – Kepengurusan DPW (Dewan Pengurus Wilayah) Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (Ikatsi) Jawa Timur masa bakti 2019-2023 mempunyai pekerjaan membahas masalah kecenderungan menyusutnya jumlah perusahaan tekstil di Indonesia.

Sebagaimana diketahui dunia pertekstilan di Indonesia, termasuk Jawa Timur booming dan berkembang pesat sejak tahun 1980-an.

Produksi Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kegiatan ekspor TPT dari Indonesia meningkat dari tahun ke tahun.

“Di Jawa Timur, perusahaan tekstil yang pernah mencapai jumlah 200-an pabrik, sekarang menyusut tajam. Penyusutan jumlah perusahaan tekstil di Jatim itu, di antaranya akibat makin tuanya mesin-mesin tekstil dan kurangnya peremajaan,” kata Wakil Sekretaris Ikatsi, HM Yousri Nur Raja Agam.

Kecuali itu, pada akhir-akhir ini persaingan dengan produsen negara lain semakin ketat, salah satu penyebabnya adalah akibat pasar bebas global. Di samping itu, produsen dalam negeri menghadapi tantangan yang cukup berat dengan melimpahnya ekspor barang TPT dari luar negeri, terutama dari Cina.

Wagub Jatim, Dr. Emil Elestianto Dardak diskusi dengan pengusrus Ikatsi.

Persaingan dagang antara Amerika Serikat dengan Cina juga berdampak terhadap produksi, pemasaran, dan bisnis TPT di Indonesia. Menghadapi tantangan itu, maka Ikatsi, pada Kongres ke-8, tanggal 8 Maret 2019 lalu menyampaikan rekomendasi, selain ke berbagai perguruan tinggi tekstil dan perusahaan tekstil dalam negeri, juga kepada Pemerintah.

Kepada Pemerintah melalui beberapa kementerian terkait, diharapkan untuk memperbaiki struktus industri tekstil guna mengantisipasi pasar yang VUCA (Volatile Uncertainty Complex Ambigu) membentuk katahanan industri tekstil nasional melalui kemandirian bahan baku tekstil yang dapat diproduksi di Indonesia.

“Selain itu, juga diharapkan pengendalian impor TPT yang lebih selektif untuk mempertahankan keberadaan industri dalam negeri, yakni mengusulkan kepada Pemerintah untuk membentuk Undang-undang tentang “ketahanan sandang” dan “kemandirian sandang”. Dalam hal ini, Ikatsi siap untuk memberikan masukan,” pungkas Yousri.

Sementara para pengurus Ikatsi adalah alumni perguruan tinggi tekstil di seluruh Indonesia yang berada di Jawa Timur. Selain beraktivitas di 37 perusahaan tekstil di Jatim, juga di bidang pendidikan, bisnis, dan kemasyarakatan.

BACA JUGA: Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan Jatim di Atas Tujuh Persen

Acara pelantikan dan pengukuhan pengurus DPW Ikatsi Jatim dilaksanakan Selasa, 15 Oktober 2019 di Gedung Balai Diklat Industri Jatim di Jalan Gayung Kebonsari Dalam 12 Surabaya oleh Ketua DPP Ikatsi, Ir. Suharno Rusdi.

Wakil Gubernur (Wagub) Jatim, Dr. Emil Elestianto Dardak, pada acara tersebut, dijadwalkan memberi pengarahan dan informasi tentang perkembangan dan tantangan dunia pertekstilan di Jatim.

Susunan pengurus DPW Ikatsi Jatim yang dilantik, adalah:

Ketua, Haryono, BkTeks, ST dan Wakil Ketua, Dr. Ir. Nelly Budhiharti, MSIE. Sekretaris, Edy Sutikno, AmdTeks, SE, MM dengan Wakil Sekretaris, HM Yousri Nur Raja Agam, BkTeks, SH. Bendahara, Totok Supriyono, BkTeks dan Wakil Bendahara, Slamet Basuki, AmdTeks.

Kepengurusan ini dilengkapi Dewan Pengarah yang diketuai kepala Dinas Perindustrian dan Pergadangan (Perindag) Jatim, dan Wakil Ketua, Ir.H. Hasnul Usman, MM, serta anggota: Mohadi, S.Sos, MM, Dicky Sumitro, BScTex,  Aryani Widagdo dan Sri Kholifah. Di samping itu, juga ada bidang Fungsional dan Bidang Sektoral. (*/kj1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *