Merajut Asa  Pertahankan Warisan Leluhur,  Batik Tanjung Bumi Makin Dikenal 

oleh -44 Dilihat
Muhtarib, pengusaha batik gentongan Bangkalan dan istri menunjukkan batik gentongan Bangkalan yang harganya mencapai puluhan juta. (kilasjatim.com/Nova) 

KILASJATIM. COM,  Bangkalan, Madura – Canting (alat kecil yang digunakan untuk membatik) secara perlahan mulai ditorehkan di atas lembaran kain mori putih bersih yang sudah digambar tipis. Sesekali canting tersebut dicelupkan dalam cat khusus yang dicairkan di atas wadah  diletakkan  di atas tungku kecil yang memunculkan aroma khas bahan dasar membatik yang terlebih dahuku ditiup sebelum kembali ditimpakan di atas kain tersebut.

Suasana seperti ini kita temui di Pesisir Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Di desa ini kita  bisa kita lihat sekaligus jika ingin menjajal dengan ikut membatik

Ada sesuatu yang tidak terlihat ketika selembar batik gentongan Tanjung Bumi dibentangkan. Di balik motif dan warna yang tampak sederhana, ada waktu berbulan-bulan yang dihabiskan untuk mengerjakannya. Bahkan, untuk kain tertentu, prosesnya bisa mencapai satu tahun.

Membatik di Tanjung Bumi bukan sekadar menorehkan cairan malam dengan canting di atas helai kain putih. Keunikan paling mendalam dari mahakarya ini terletak pada keberadaan gentong—kendi tanah liat tradisional yang digunakan untuk merendam kain yang telah diwarnai.

Proses perendaman di dalam gentong ini membutuhkan waktu yang tidak singkat, berkisar antara 3 hingga 6 bulan, demi melahirkan warna yang meresap sempurna, lebih melekat, dan tampak begitu hidup. Di balik proses yang menguji kesabaran tersebut, terikat sebuah filosofi kesucian yang dijaga ketat secara turun-temurun.

Lebih dari 80 perempuan terlibat dalam proses tersebut di usaha batik milik Muhtarib (64), seorang pengusaha batik gentongan di Bangkalan, Madura. Para pekerjanya seluruhnya perempuan, dengan usia mulai dari 17 hingga sekitar 50 tahun.

“Pekerja kami lebih dari 80 orang. Semuanya perempuan.  Mereka tidak mengerjakan semuanya dalam satu tempat. Ada yang menggambar motif, memberi malam, melakukan pewarnaan, hingga menyelesaikan proses akhir. Sebagian pekerjaan dilakukan dari rumah masing-masing, ” kata Muhtarib.

Suami dari Rusmidah ini menuturkan betapa magisnya perpaduan antara ketulusan perajin dan proses alami di dalam gentong tanah tersebut. Apabila kain dikerjakan tanpa kejernihan niat dan proses yang benar, keindahan warnanya bahkan tidak akan keluar dari serat kain.

Setelah prosesi tersebut, kain yang telah diberi malam mulai dimasukkan ke dalam gentong berisi bahan pewarna alami yang semuanya dibilkan dari tanaman seperti buah mengkudu dan bahan-bahan alami yang pada masa lalu berasal dari tanaman maupun getah.

 Di tahap inilah kain menjalani proses perendaman yang menjadi ciri khas batik gentongan Tanjung Bumi.  Tidak semua kain membutuhkan waktu yang sama. Ada yang selesai dalam 40 hari, ada yang sekitar 60 hari atau dua bulan. Namun, untuk kain dengan motif dan proses tertentu, seluruh perjalanan dari awal hingga selesai bisa mencapai satu tahun.

Satu kain berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya sebelum akhirnya menjadi batik siap jual. Panjangnya proses itulah yang membuat batik gentongan berbeda. Perjalanan selembar kain dimulai dari kain putih berukuran sekitar 2,25 meter.

Lamanya proses itu pula yang membuat harga batik gentongan sangat beragam. Ada yang dijual ratusan ribu rupiah, ada pula yang mencapai jutaan rupiah.  Ketika selembar batik gentongan Tanjung Bumi dihargai jutaan bahkan puluhan juta rupiah, yang dibayar bukan hanya kain dan motifnya. Di dalamnya ada waktu, kesabaran, keterampilan, tradisi, dan kehidupan banyak orang yang ikut menggantungkan harapan pada selembar kain.

Baca Juga :  LPS  Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan

Proses pewarnaan dan pencelupan  dikerjakan ibu ibu setempat yang tergabung dalam kelompok UMKM Batik Tulis Tanjung Bumi . (kilasjatim.com/Nova) 

Secara ekonomi, selembar Batik Gentongan merupakan investasi berharga. Harga satu helai Batik Gentongan dibanderol berkisar dari Rp 3 juta , untuk kain tertentu, harganya bisa mencapai sekitar Rp8 juta  hingga mencapai puluhan juta rupiah, tergantung dari tingkat kerumitan motif serta lamanya proses pengendapan warna.

Bagi para perajin lokal, kain mori dan gentong perendam adalah tumpuan napas kehidupan. Karena dari situlah ekonomi keluraga berjalan sebagaimana  mestinya.  Ungkapan tersebut dijelaskan salah satunya, Suryaningsih, seorang perajin dibagian gambar (membatik) yang dilakukan sejak duduk di kelas 5 sekolah dasar. Setiap hari, ia melukis pola kasar pada dua lembar kain dengan imbalan Rp 25.000 per hari. Membatik menjadi penopang utama bagi Suryaningsih bersama  lebih dari 70 rekan lainnya  sesama perajin di desa itu.

Bahkan sekarang ini, Suryaningsih membekali anak anaknya dengan ikut membatik. “Membatik adalah warisan kami warga disini, maknay aaejka usia SD anak anak sudah ajari membatik sekaligus sebagai bekal mereka nanti saat dewasa dan berumah tangga, ” jelasnya.

Asa dan doa senantiasa dipanjatkan dibarengi dengan gigihnya usaha yang rutin dijalani  dari para perajin batik di daerah ini seolah  terjawabkan. Pada tahun 2004, PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) melirik potensi warga setempat dengan memberikan pendampingan  melalui pendekatan Konsep One Belt One Road (OBOR), dengan membentuk  Kelompok UMKM Batik Tulis Tanjungbumi di Desa Macajah.

Pembentukan kelompok UMKM Batik Tulis Tanjung Bumi ini berjalan mulus dengan menunjuk  Rusmidah, sebagai Ketua UMKM Batik Tulis Tanjungbumi, yang dipercaya mampu menjadi penggerak utama yang merangkul para ibu rumah tangga sekitar.

Rusmidah pun menjalankan tugasnya dengam memberi pembekalan kepada ibu ibu pengrajin batik agar berani berdaya dari rumah tanpa meninggalkan kewajiban domestik mereka.

“Masuknya PHE WMO memberi pendampingan banyak memberi manfaat dan pengetahuan baru bagi kami warga desa yang mayoritas kurang paham dengan banyak hal.  Kami berkeyakinan pendampingan PHE WMO, kami warga disini semlain giat untuk terus melestarikan Batik Tulis Tanjungbumi agar warisan budaya ini tidak berhenti di generasi saya, ” papar Rusmidah, istro dari Muhtarib.

Setelah masuk dalam kelompok UMKM, Rusmidah  mengajak ibu-ibu dan perempuan di sekitarnya  untuk ikut belajar dan menekuni batik. “Alhamdulillah, sebagian besar warga lhususnya ibu ibu antusias ikut  pelatihan. Dari membatik mereka bisa memiliki kegiatan yang produktif sekaligus  mendapatkan tambahan penghasilan yang bisa digunakan untuk membantu ekonomi keluarga, tanpa harus meninggalkan kewajiban di rumah,” kata Rusmidah.

Hari demi hari asa untuk mempertahankan warisan budaya leluhurpun menunjukkan hal yang menggembirakan, lembaran  kain yang awalnya berwarna putih polos berubah menjadi lembaran bergambar dan berwarna  sarat penuh makna.

Baca Juga :  Indosat Gelar RUPSLB, Pertahankan Vikram Sinha Jalankan Agenda Strategis Realisasikan Strategi AI North Star

Kini jumlah koleksi Batik Tanjung bumi jumlahnya lebih dari 130 motif warisan, termasuk 10 motif khas Tanjungbumi. Langkah perjalanan usaha batik kerap kini dihadapkan pada problem, mau dikemanakan? Untuk melanjutkan memproduksi  tentunya harus ada modal  , disini kendalanya. Para pengrajin batik berhadapan dengan gelombang lesunya pasar.

Dinamika ekonomi, salah satu faktor penjualan batik Tanjung Bumi sempat mengalami penurunan. Muhtarib lantas berpikir panjang dengan memanfaatkan kawasan sekitar jembatan Suramadu untuk pemasarannya. Mengingat jalur tersebut sebagai pintu masuk wisatawan yang hendak menunu Madura.

Maka Batik Tanjung Bumi pun bisa didapatkan dengan mudah di area sekitaran bawah  Jembatan tol  Suramadu. Jika harga kain yang di Bangkalan bisa dijual sekitar Rp200.000, misalnya, di lokasi tersebut dapat dipasarkan kembali dengan harga Rp350.000 hingga Rp500.000, tergantung motif dan kualitasnya.

” Harga di luar daerah sentra produksi biasanya lebih tinggi karena adanya biaya distribusi dan berbagai komponen lainnya, namum harga tersebut terbilang sesuai dengan kualitas produknya, ” urainya.

Kondisi ini tidak terlalu merisaukan , karena promosi produk mereka tak pernah terputus. Dengan kemampuan memproduksi 300 hingga 500 lembar kain per siklus dengan omzet kelompok mencapai Rp 150 juta hingga Rp 250 juta per bulan yang memberi pendapatan perajin individu berkisar Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta per bulan.

“Setelah jadi mitra  binaan PHE WMO, kelompok pengrajin Batik Tanjung Bumi sering diajak dan diikutkan dalam berbagai ajang pameran di dalam maupun di luar negeri. Yang baru saja kami ikuti pameran INACRAFT 2025. Alhamdulillah, produk kami makin dikenal . Akses pasar semakin luas karena kami juga diajari cara juala  melalui platform digital Bakaoo.id, media sosial, marketplace yang sebelumnya kami sama sekali tidak paham, ” ulas Muhtarib.

Setelah beberapa kali mengikuti pameran skala nasional maupu  mancanegara, Batik Tanjumg Bumi pun pada akhirnya mendapat pengakuan dunia  dengan mendapat penghargaan CSR Excellence Awards 2026 di London.

Mengutip dari rilis yang dikirimkan terpisah, Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur PHE, Sigit Dwi Aryono, menjelaskan apa yang dilalukan PHE WMO sebagai wujud komitmen perusahaan dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat.

“Pendampingan ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam merajut keberlanjutan Environmental, Social & Governance (ESG) serta mendukung target SDGs Kesetaraan Gender dan Pertumbuhan Ekonomi yang Layak. Regional Indonesia Timur berkomitmen menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dalam kerangka Environmental, Social & Governance (ESG),” jelas Sigit  Dwi Aryono.

Pengembangan Batik Tulis Tanjungbumi merupakan implementasi dari komitmen tersebut, khususnya pada aspek sosial melalui pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi lokal, dan pelestarian warisan budaya.

“Kami berharap pendampingan yang dilakukan tidak menciptakan ketergantungan, tetapi mampu membangun kapasitas dan kemandirian kelompok sehingga Batik Tanjungbumi dapat terus berkembang, memiliki akses pasar yang semakin luas, serta memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.  Dukungan yang diberikan antara lain membuka kesempatan bagi usaha batiknya untuk mengikuti berbagai pameran di Surabaya, daerah daerah lain bahkan dikenalkan pula pada tamu mancanegara,” pungkas Sigit Dwi Aryono. (nov)