KILASJATIM.COM, Bali – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terus memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui penyaluran kredit serta pengembangan ekosistem pemberdayaan masyarakat. Hingga semester I 2026, kredit segmen usaha kecil dan menengah (UKM) BCA tercatat mencapai Rp134,6 triliun atau tumbuh 6% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan kredit UKM tersebut menjadi bagian dari ekspansi penyaluran kredit BCA secara keseluruhan. Hingga Agustus 2026, total kredit BCA mencapai Rp1.018 triliun, tumbuh 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tidak hanya mengandalkan pembiayaan, BCA juga memperluas pendekatan pemberdayaan UMKM melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha, pengembangan produk, serta perluasan akses pasar. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program Bakti BCA yang menyasar komunitas dan pelaku UMKM di sejumlah daerah.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, perluasan eksposur tersebut merupakan bagian dari upaya BCA membangun ekosistem pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Bagi BCA, perluasan exposure tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Hal ini sejalan dengan pendekatan Bakti BCA dalam mengembangkan potensi komunitas melalui peningkatan kapasitas, pengembangan produk, serta perluasan akses pasar,” ujar Hera kepada media saat ditemui pada acara Kawan Nusantara pada Rabu (7/10) di Bali.
Salah satu bentuk pemberdayaan tersebut dilakukan BCA di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui program pembinaan pewarnaan alam dan penguatan kelembagaan. Program ini mendampingi para penenun untuk mengembangkan kembali penggunaan pewarna alami sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk wastra.
Pembinaan tersebut dilakukan melalui Koperasi Konsumen Uma Tinung Kambata dengan melibatkan 50 penenun dari sejumlah desa di Sumba Timur. Pendampingan tidak hanya diarahkan pada pelestarian teknik dan tradisi menenun, tetapi juga pada pengembangan produk agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Perwakilan Koperasi Konsumen Uma Tinung Kambata, Yonatan Landu Praing, mengatakan pengembangan wastra perlu berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan tradisi. “Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,”ungkapnya.
Pengembangan produk kemudian diarahkan pada inovasi motif dan produk turunan agar wastra berbasis pewarna alam dari berbagai daerah semakin relevan dengan kebutuhan pasar, termasuk industri fashion.
Hingga 2025, karya penenun dari Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Melayu Deli, dan Baduy telah diperkenalkan melalui berbagai kanal, termasuk Kawan Nusantara bersama TULOLA, BCA Expoversary, dan BCA Expo. Perluasan akses pasar tersebut menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan produk UMKM binaan dengan konsumen yang lebih luas.
Dampak ekonomi dari pembinaan tersebut mulai terlihat. BCA mencatat tambahan penghasilan komunitas penenun mencapai lebih dari Rp367 juta sepanjang 2025, meningkat 34% secara tahunan.
Kontribusi BCA terhadap UMKM juga terus berlanjut hingga semester I 2026. Secara akumulatif, kontribusi tersebut tercatat sebesar Rp1,03 miliar pada 2023, Rp1,00 miliar pada 2024, Rp936,57 juta pada 2025, dan meningkat menjadi Rp1,92 miliar pada semester pertama 2026.
Di sisi lain, peluang pengembangan UMKM binaan BCA juga terlihat dari potensi pasar ekspor. Pada 2025, potensi nilai ekspor UMKM binaan BCA tercatat mencapai Rp110,9 miliar. Data tersebut menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan akses pembiayaan, tetapi juga membutuhkan penguatan kapasitas produksi, inovasi, pengembangan produk, branding, dan akses pasar.
Pertumbuhan kredit UKM BCA sebesar 6% YoY hingga semester I 2026 sekaligus menunjukkan masih terbukanya ruang pembiayaan bagi sektor usaha kecil dan menengah. Dengan nilai kredit yang telah mencapai Rp134,6 triliun, pembiayaan menjadi salah satu fondasi bagi pelaku usaha untuk berkembang.
Melalui kombinasi pembiayaan dan program pemberdayaan, BCA berupaya membangun ekosistem UMKM yang tidak hanya mendorong pertumbuhan usaha, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi di tingkat komunitas. Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang bagi kekayaan budaya lokal untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.(kar)
