Nyoman Nuarta: Gagasan Seni Harus Bisa Dibangun

oleh -353 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Seniman tidak cukup hanya memiliki imajinasi. Gagasan artistik harus mampu diterjemahkan menjadi karya nyata melalui penguasaan teknologi, perhitungan teknis, jaringan, dan kemampuan meyakinkan pihak lain. Itu disampaikan I Nyoman Nuarta, pematung kenamaan dan alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam forum Seniman Wicara pada rangkaian ARTSUBS 2026 di selasar Balai Budaya, Surabaya, Minggu (20/9/2026).

Dalam dialog bersama kurator ARTSUBS, Nirwan Dewanto, Nuarta membagikan pengalaman mengerjakan sejumlah karya monumental, termasuk Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali dan Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara (IKN). “Pertama-tama adalah mengajukan proposal proyek. Saya membuat proyek gagasannya terlebih dahulu, lalu menawarkannya kepada pihak mana pun,” terang Nuarta.

Menurut dia, tantangan karya monumental bukan hanya menciptakan bentuk artistik, tetapi memastikan gagasan tersebut dapat diwujudkan secara teknis dan finansial.
Pengalaman GWK menjadi salah satu contoh.

Nuarta menuturkan, proyek tersebut berawal dari inisiatif pribadi. Ia bahkan menyiapkan lahan seluas 23 hektare sebelum mendapatkan dukungan pendanaan. “Saya menyiapkan lahan pribadi seluas 23 hektare. Ketika tidak ada pihak yang membantu, saya melapor kepada Presiden Soeharto, hingga akhirnya beliau mencairkan pinjaman sebesar Rp23 miliar,” ujarnya.

Proyek tersebut kemudian menghadapi berbagai persoalan pendanaan dan dinamika selama bertahun-tahun. Dalam perkembangannya, Nuarta bekerja sama dengan Grup Alam Sutera hingga kawasan GWK berkembang menjadi destinasi wisata dan budaya. “Menjual karya seni itu tidak mudah. Dibutuhkan pembuktian konkret, bukan sekadar janji,” tegas Nuarta.

Untuk mendukung karya berskala besar, Nuarta mengembangkan pendekatan teknis dalam pembuatan patung monumental. Ia menyebut telah mematenkan teknik pembuatan patung organis berskala besar pada 1993 melalui pendekatan pembesaran skala dan segmentasi.

Menurut Nuarta, penguasaan teknologi juga berkaitan dengan efisiensi konstruksi. Penerapan kerangka khusus dan standar HSE serta K3, kata dia, dalam kondisi tertentu dapat mengurangi kebutuhan scaffolding dan menekan biaya hingga sekitar 40 persen.

Baca Juga :  PT Pelindo Terminal Petikemas Alihkan Pengelolaan TPK Berlian ke Terminal Teluk Lamong

Pengalaman teknis tersebut kemudian diterapkan dalam desain Istana Garuda di IKN. Nuarta menyebut proyek itu dapat dikerjakan sekitar 11 bulan karena perhitungannya dibangun dari pengalaman mengerjakan GWK. “Saya berani berjanji karena sudah mengalkulasi seluruh pengalaman dari proyek GWK,” papar Nuarta.

Konsep Istana Garuda dikembangkan melalui pendekatan “archsculpt”, perpaduan seni patung dan arsitektur. Nuarta menegaskan, proyek monumental tidak mungkin dikerjakan seorang diri, melainkan membutuhkan tim yang mampu menerjemahkan gagasan artistik menjadi perhitungan dan pekerjaan teknis.

Selain teknologi, Nuarta menilai kemampuan membangun narasi juga penting. Seniman harus memahami lingkungan, karakter masyarakat, serta kepentingan berbagai pihak sebelum menawarkan sebuah gagasan. “Ide boleh berangkat dari imajinasi, tetapi cara menjelaskannya harus rasional dan dapat dipertanggungjawabkan,” lanjut Nuarta.

Bagi Nuarta, perjalanan dari GWK hingga Istana Garuda menunjukkan bahwa pekerjaan seorang seniman tidak berhenti ketika gagasan lahir. Tantangan berikutnya adalah membuat gagasan itu dapat dihitung, dibangun, dan akhirnya hadir sebagai kenyataan di ruang publik.(tok)