PKB Bondowoso Perkuat Akar Pesantren, Keluarga Besar Al-Utsmani Resmi Bergabung

oleh -332 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bondowoso memperkuat konsolidasi internal dengan merangkul kembali tokoh-tokoh pesantren yang memiliki ikatan sejarah dengan partai. Salah satu langkah strategis tersebut ditandai bergabungnya Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani, KH Faqih Subhan, ke dalam jajaran Dewan Syura DPC PKB Bondowoso.

Masuknya KH Faqih tidak hanya menambah kekuatan kepengurusan, tetapi juga menjadi simbol berlanjutnya estafet perjuangan politik keluarga besar Al-Utsmani yang sejak awal menjadi bagian dari perjalanan PKB di Bondowoso.

Ketua DPC PKB Bondowoso, Ahmad Dhafir, mengatakan hubungan PKB dengan Pondok Pesantren Al-Utsmani memiliki sejarah panjang. Bahkan, deklarasi PKB di Bondowoso pada 1998 berlangsung di lingkungan pesantren tersebut.

Karena itu, sebelum menyusun kepengurusan baru, jajaran DPC PKB terlebih dahulu melakukan silaturahmi dengan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani, KH Ghozali Ustman, untuk meminta restu sekaligus berdiskusi mengenai keterlibatan keluarga besar pesantren dalam kepengurusan partai.

“Alhamdulillah keluarga besar Pondok Pesantren Al-Utsmani berkenan dan direstui masuk dalam jajaran kepengurusan PKB untuk bersama-sama mengurus partai yang dilahirkan oleh NU,” ujar Dhafir.

Menurutnya, PKB tidak bisa dipisahkan dari Nahdlatul Ulama (NU). Sebab, partai tersebut lahir dari rahim NU sehingga seluruh kader memiliki tanggung jawab menjaga nilai, tradisi, dan semangat perjuangan yang diwariskan organisasi tersebut.

Dhafir menegaskan keberadaan kegiatan PKB di lingkungan NU bukan bertujuan memanfaatkan organisasi, melainkan sebagai pengingat bahwa perjalanan politik PKB selalu berpijak pada nilai-nilai ke-NU-an dan dunia pesantren.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah anggota keluarga besar Al-Utsmani, termasuk tokoh yang sebelumnya aktif di Ansor dan Banser, turut bergabung dalam kepengurusan. Ke depan, keterlibatan mereka akan diperluas hingga tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) untuk memperkuat struktur organisasi sampai tingkat desa.

Baca Juga :  Waspada Oknum Tawarkan Jabatan Mengaku Orang Dekat Bupati Terpilih, Ini Kata Ketua Tim Pemenangan

Dengan konsolidasi tersebut, Dhafir optimistis PKB mampu meningkatkan perolehan kursi pada Pemilu 2029.

“Tentu target kami kursi tidak boleh berkurang. Saya justru yakin akan bertambah,” tegasnya.

Optimisme itu, lanjut Dhafir, dibangun melalui pembenahan organisasi sejak awal serta membuka ruang yang lebih luas bagi kader muda, tokoh pesantren, dan para alumni pondok untuk ikut berkiprah melalui PKB.

Ia bahkan mengajak alumni pesantren, termasuk alumni Pondok Pesantren Sukorejo, agar tidak ragu maju sebagai calon legislatif melalui PKB sebagai bagian dari ikhtiar memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Sementara itu, KH Faqih Subhan menuturkan keputusannya bergabung dalam kepengurusan PKB dilandasi keinginan melanjutkan perjuangan almarhum ayahnya, KH Subhan, yang selama bertahun-tahun mengabdikan diri di partai tersebut.

Menurutnya, keluarga besar Al-Utsmani memiliki kedekatan emosional dan historis dengan PKB karena sejak awal kelahirannya di Bondowoso, partai itu tumbuh dari lingkungan pesantren.

Almarhum KH Subhan sendiri pernah mengemban amanah sebagai anggota Dewan Syura hingga jajaran Tanfidz DPC PKB Bondowoso sebelum wafat pada 2023.

KH Faqih menilai PKB bukan sekadar wadah politik, melainkan sarana memperjuangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini dijaga oleh Nahdlatul Ulama.

Melalui jalur politik, kata dia, aspirasi masyarakat, mulai dari kalangan pesantren, petani, nelayan, guru ngaji hingga pelaku UMKM, dapat diperjuangkan dalam bentuk regulasi maupun kebijakan pemerintah.

Baginya, politik harus menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Karena itu, sinergi antara NU sebagai penjaga nilai-nilai keagamaan dan PKB sebagai saluran perjuangan politik harus terus dipertahankan agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa.(wan)