National Hospital menyediakan berbagai pemeriksaan penunjang, seperti Holter ECG yang merekam irama jantung selama 24 hingga 72 jam saat pasien menjalani aktivitas normal. Selain itu, tersedia pula Electrophysiology (EP) Study untuk mengevaluasi sistem kelistrikan jantung serta treadmill test yang dapat membantu menilai risiko gangguan irama jantung saat beraktivitas. (ist/dok)
KILASJATIM. COM, Surabaya – Keluhan jantung berdebar sering kali dianggap sepele sebagai respons normal akibat kelelahan, stres, atau konsumsi kafein. Padahal kondisi tersebut bisa menjadi salah satu gejala aritmia, yaitu gangguan irama jantung yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, terutama jika disertai keluhan lain seperti pusing hingga pingsan.
Dokter Spesialis Jantung National Hospital, dr. Gunawan Yoga, Sp.JP, menjelaskan bahwa gejala aritmia berbeda pada setiap orang. Keluhan yang paling umum adalah jantung berdebar (palpitasi), dengan sensasi yang dapat berupa denyut sangat cepat, hentakan keras di dada, hingga denyut yang terasa sampai ke telinga.
“Sebagian besar aritmia sebenarnya bersifat jinak, sekitar 90 persen. Namun, ada sekitar 5–10 persen yang berpotensi berbahaya dan dapat meningkatkan risiko kematian mendadak apabila tidak ditangani,” terang dr. Gunawan Yoga dalam acara Health Talk: Jantung Berdebar? Kenali Kapan Harus Waspada! di National Hospital Surabaya.
Ditambahkan, masyarakat sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami jantung berdebar yang disertai dengan gejala lainnya seperti pusing, keringat dingin, pingsan yang bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selain itu, dr. Gunawan juga menganjurkan pemeriksaan bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, pernah menjalani operasi jantung, maupun memiliki anggota keluarga dengan riwayat kematian mendadak.
Untuk membantu menegakkan diagnosis, National Hospital menyediakan berbagai pemeriksaan penunjang, seperti Holter ECG yang merekam irama jantung selama 24 hingga 72 jam saat pasien menjalani aktivitas normal. Selain itu, tersedia pula Electrophysiology (EP) Study untuk mengevaluasi sistem kelistrikan jantung serta treadmill test yang dapat membantu menilai risiko gangguan irama jantung saat beraktivitas.
Melalui dukungan fasilitas diagnostik yang lengkap serta tim dokter spesialis jantung yang berpengalaman, National Hospital berkomitmen memberikan layanan komprehensif untuk deteksi, diagnosis, hingga penanganan aritmia. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, risiko komplikasi serius akibat gangguan irama jantung dapat diminimalkan sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga.
“Karena gangguan irama jantung tidak selalu muncul saat pemeriksaan biasa, pemilihan jenis pemeriksaan yang tepat menjadi sangat penting agar penyebab keluhan dapat diketahui secara akurat,” jelas dr. Gunawan.
Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa kemajuan teknologi di bidang kardiologi memungkinkan beberapa jenis aritmia ditangani secara efektif, termasuk melalui tindakan ablasi pada pasien dengan indikasi tertentu. (nov)
