KILASJATIM.COM, Surabaya – Gelaran ARTJOG kembali menjadi ruang perjumpaan antara publik dan seni kontemporer. Namun, tahun ini perhatian tidak hanya tertuju pada karya-karya yang dipamerkan, melainkan juga pada sosok Didit Hediprasetyo yang menjadi sasaran tuduhan melakukan artwashing, yakni menggunakan seni sebagai sarana membangun atau membersihkan citra politik. Narasi tersebut berkembang cepat di media sosial dan seolah diterima begitu saja sebagai sebuah kebenaran.
Padahal, tuduhan semacam itu seharusnya tidak berhenti pada asumsi atau sentimen politik. Ia perlu diuji dengan fakta dan kronologi. Ketika rekam jejak seseorang diabaikan demi membangun sebuah narasi, kritik kehilangan pijakan objektifnya. Dalam konteks Didit Hediprasetyo, justru sejarah panjang perjalanan kreatifnya menunjukkan bahwa tuduhan tersebut sulit dipertahankan secara rasional.
Salah satu kekeliruannya terletak pada cara melihat garis waktu. Seolah-olah Didit baru hadir di dunia seni ketika ayahnya berada di pusat kekuasaan. Padahal, keterlibatannya dalam dunia kreatif telah dimulai sejak lebih dari dua dekade lalu, jauh sebelum konfigurasi politik hari ini terbentuk. Menempatkan seluruh perjalanan itu sebagai bagian dari strategi politik masa kini jelas merupakan penyederhanaan yang berlebihan.
Ketertarikan Didit terhadap seni sudah terlihat sejak tahun 2000 ketika ia mempelajari teater di Harvard. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa dunia seni bukanlah ruang yang baru dikenalnya, melainkan bidang yang memang sejak awal menjadi bagian dari minat dan proses pembentukan dirinya. Saat itu, tidak ada konteks politik yang dapat menjelaskan pilihan tersebut sebagai bagian dari pencitraan.
Komitmen itu kemudian diperkuat melalui jalur pendidikan profesional. Didit menempuh studi di Parsons School of Design di Paris, salah satu institusi desain paling bergengsi di dunia, dan lulus pada 2007. Pendidikan tersebut bukan sekadar simbol prestise, melainkan fondasi yang membentuk kapasitas kreatifnya sebagai seorang desainer yang kemudian berkarier di tingkat internasional.
Selepas pendidikan, perjalanan profesionalnya berlangsung secara konsisten. Sejak 2010, karya-karyanya rutin diperkenalkan di Paris, kota yang dikenal sebagai salah satu pusat mode dunia. Bidang yang digelutinya, haute couture, merupakan cabang seni rupa terapan yang menuntut kreativitas, teknik, dan disiplin tinggi. Pengakuan dari industri mode internasional, termasuk liputan media seperti Vogue, tentu tidak datang karena latar belakang keluarga, melainkan karena kualitas karya yang mampu bersaing di panggung global.
Di titik inilah narasi artwashing mulai kehilangan pijakan logisnya. Sulit membayangkan seseorang membangun pendidikan, karier, jaringan profesional, hingga reputasi internasional selama puluhan tahun hanya untuk mendukung sebuah kepentingan politik yang baru muncul jauh setelah seluruh proses itu berlangsung. Penjelasan tersebut tidak sejalan dengan fakta maupun kronologi yang tersedia.
Yang juga kerap luput dari perhatian adalah bagaimana Didit menggunakan ruang kreatifnya untuk memperkenalkan identitas Indonesia. Dalam berbagai koleksinya, ia konsisten mengangkat kain songket sebagai bagian dari ekspresi artistik. Di panggung internasional, pilihan tersebut menjadi bentuk diplomasi budaya yang memperkenalkan warisan Nusantara kepada audiens global tanpa harus menggunakan pendekatan yang bersifat seremonial.
Ironisnya, kontribusi semacam itu justru sering kali tenggelam di tengah polarisasi politik domestik. Latar belakang keluarga kemudian dijadikan satu-satunya lensa untuk membaca seluruh perjalanan profesional seseorang. Akibatnya, capaian, dedikasi, dan proses kreatif yang telah berlangsung bertahun-tahun seolah kehilangan makna hanya karena publik memilih melihatnya dari perspektif politik.
Tentu, ruang seni tidak boleh steril dari kritik. Festival seperti ARTJOG justru memiliki nilai karena membuka ruang dialog, perbedaan pendapat, bahkan perdebatan yang tajam. Kritik terhadap karya, kurasi, maupun relasi antara seni dan kekuasaan merupakan bagian penting dari ekosistem seni yang sehat. Namun, kritik yang baik tetap memerlukan landasan fakta dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketika kritik berubah menjadi penilaian terhadap seseorang semata-mata karena identitas keluarganya, yang terjadi bukan lagi diskusi mengenai seni, melainkan pembentukan prasangka. Pada titik itu, ruang publik kehilangan kesempatan untuk membahas kualitas karya dan justru terjebak dalam polarisasi yang tidak menghasilkan pemahaman baru.
Karena itu, sudah saatnya publik lebih cermat membedakan antara kritik yang berbasis bukti dan tuduhan yang dibangun di atas asumsi. Rekam jejak Didit Hediprasetyo menunjukkan bahwa keterlibatannya di dunia kreatif merupakan hasil dari pilihan hidup, pendidikan, dan konsistensi yang telah ditempuh selama puluhan tahun. Menghargai fakta tersebut bukan berarti menutup ruang kritik, melainkan memastikan bahwa kritik tetap berdiri di atas objektivitas, sehingga seni tetap menjadi ruang yang mempersatukan, bukan sekadar arena pertarungan sentimen politik.(*)
