PT Sinergi Gula Nusantara Siapkan Langkah Optimis  Akselerasi Swasembada Gula 

oleh -558 Dilihat

Kepala Sekretaris Perusahaan PT Sinergi Gula Nusantara, Yunianta. (kilasjatim.com/nova)

KILASJATIM.COM, Surabaya – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) mematangkan  konsolidasi industri gula nasional dengan  menargetkan proses akuisisi tujuh pabrik gula milik PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dapat dirampungkan pada akhir Maret atau paling lambat awal April 2026.

Disampaikan  Kepala Sekretaris Perusahaan PT Sinergi Gula Nusantara, Yunianta,  proses akuisisi tujuh pabrik gula milik PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dapat dirampungkan pada akhir Maret atau paling lambat awal April 2026.

“SGN terus berkoordinasi dengan kementerian-kementerian terkait terutama beberapa kebijakan pemerintah melalui CPCL. Tahun ini kami masih memiliki optimisme karena ada program bantuan dari pemerintah seperti bongkar ratoon tebu dan program Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) yang diharapkan dapat menaikkan jumlah tebu dengan target giling 14,5 juta ton. Kami juga berharap ada margin positif tahun ini ada laba usaha kotor Rp1 triliun dan laba sebelum pajak Rp493 miliar,” ujar Yunianta dalam kegiatan Media Gathering bersama rekanan media partner berskala nasional di Surabaya, Kamis (12/3).

Namun demikian, tantangan baru juga mulai muncul pada 2026, terutama terkait dampak geopolitik global. Yunianta menyebut konflik di Timur Tengah berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar dan bahan baku industri.

“Kita mulai mitigasi tantangan, salah satunya dampak perang Iran. Akibat perang, BBM semakin langka dan harganya juga naik. Sementara kita masih menggunakan BBM, terutama solar,” jelasnya.

Selain bahan bakar, kenaikan harga bahan baku plastik juga menjadi perhatian karena digunakan untuk kebutuhan pengemasan gula. Kenaikan harga biji plastik dinilai dapat meningkatkan biaya produksi perusahaan.

Sebagai langkah antisipasi, SGN menyiapkan mekanisme kontrak pembelian bahan bakar dan bahan baku sejak awal tahun. “Kita menyiapkan mekanisme berkontrak di awal tahun, baik untuk BBM maupun bahan baku seperti plastik,” kata Yunianta.

Baca Juga :  Apresiasi 400.000 Pelanggan DI 59 Daerah, PGN Tingkatkan Kinerja dan Layanan Gas Bumi

PT Sinergi Gula Nusantara berharap hubungan kemitraan dengan seluruh sector dapat semakin kuat dan produktif, serta menjadi bagian penting dalam mengawal transparansi informasi sekaligus mendukung percepatan terwujudnya swasembada gula sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.

“Tahun ini kami masih memiliki optimisme karena ada program bantuan dari pemerintah seperti bongkar ratoon tebu dan program Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) yang diharapkan dapat menaikkan jumlah tebu dengan target giling 14,5 juta ton. Kami juga berharap ada margin positif tahun ini ada laba usaha kotor Rp1 triliun dan laba sebelum pajak Rp493 miliar,” jelasnya dalam momen Buka Bersama Media SGN di Surabaya, Kamis (12/3/2026).

Yunianta mengakui, kinerja industri gula SGN pada 2025 memang tidak mencapai sesuai RKAP yakni dengan produksi gula hanya 882.000 ton, atau meningkat sedikit dibandingkan 2024 yang mencapai 851.000 ton. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh iklim basah atau hujan berkepanjangan sehingga berdampak pada tanaman tebu.

“Pada saat mengeluarkan tebu dari lahan saja berat ketika iklim basah, jadi ada penurunan kinerja. Seandainya rendemen tebu kita sama dengan 2023, maka jumlah gula tebu kita bisa 1 juta ton,” pungkasnya.

Moment buka puasa bersama media, dikatakan Yuniantamenjadi momentum strategis untuk mempererat hubungan kemitraan antara perusahaan dan insan pers sekaligus memperkuat komunikasi terkait perkembangan industri gula nasional.

Hadir di acara tetsebut Kepala Sekretariat Perusahaan PT SGN beserta seluruh jajaran, serta diikuti oleh media nasional yang selama ini menjadi mitra perusahaan dalam menyampaikan berbagai informasi terkait industri gula kepada publik. (nov)