HIV/AIDS di Bondowoso Tembus 1.483 Kasus, DPRD Tekankan Perluasan Screening

oleh -947 Dilihat

Wakil ketua DPRD kabupaten Bondowoso

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Upaya deteksi dini yang semakin masif justru mengungkap fakta mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025, Kabupaten Bondowoso mencatat tambahan 155 kasus baru HIV/AIDS hasil dari kegiatan screening, tracing, dan tracking yang dilakukan secara berkelanjutan.

Dengan temuan tersebut, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bondowoso kini mencapai 1.483 orang. Fakta ini terungkap dalam pertemuan antara Pokja TB-HIV dan Dinas Kesehatan Bondowoso bersama Komisi IV DPRD saat kunjungan kerja, Kamis (15/1/2026).

Ketua Pokja TB-HIV Bondowoso, Funky Indraayu Shanti, menyampaikan bahwa kasus baru tersebut tersebar di berbagai kelompok usia, mulai dari balita hingga lanjut usia. Bahkan, terdapat empat anak berusia di bawah empat tahun yang dinyatakan positif HIV/AIDS.

“Untuk usia remaja 15 sampai 19 tahun ada lima kasus. Usia 20–24 tahun sebanyak 14 orang, sedangkan kelompok usia 25–49 tahun masih mendominasi dengan 106 kasus. Di atas 50 tahun tercatat 26 orang,” jelas Funky.

Ia menerangkan, kasus pada balita terjadi akibat penularan dari ibu. Padahal, menurutnya, risiko tersebut dapat ditekan apabila ibu yang berstatus ODHA rutin menjalani terapi antiretroviral sejak awal kehamilan.

“Sebagian terlambat mengetahui statusnya, ada juga yang tidak patuh atau putus minum obat,” tambahnya.

Sementara itu, peningkatan kasus di kalangan remaja disebut tak lepas dari perilaku berisiko. Funky mengungkapkan, praktik hubungan seksual sesama jenis atau lelaki seks lelaki (LSL) menjadi salah satu faktor penularan yang kian sering ditemukan.

Di sisi pencegahan, Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Bondowoso, Goek Fitri Purwandari, menegaskan bahwa pihaknya bersama Pokja TB-HIV terus memperkuat upaya deteksi dan edukasi masyarakat.
Ia mencontohkan, tracing secara intensif pernah dilakukan saat ditemukan seorang pemuda berusia 22 tahun terkonfirmasi HIV/AIDS, untuk memutus mata rantai penularan sejak dini.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Hormati Keputusan FIFA Terkait Piala Dunia U-20

Goek juga memastikan bahwa layanan kesehatan bagi ODHA di Bondowoso telah tersedia secara memadai. Saat ini terdapat 12 fasilitas kesehatan yang melayani pengambilan obat ARV secara gratis dan sesuai prosedur.

“Dua rumah sakit rujukan, yakni RSUD dr. Koesnadi dan RS Bhayangkara, serta sepuluh puskesmas yang tersebar di berbagai kecamatan sudah siap memberikan layanan,” ujarnya.

Anggaran Terbatas, DPRD Dorong Strategi Lebih Progresif

Dalam forum tersebut, Komisi IV DPRD Bondowoso turut menyoroti anggaran penanganan HIV/AIDS yang mengalami penurunan pada tahun ini akibat kebijakan efisiensi. Meski begitu, DPRD menilai keterbatasan dana tidak boleh menjadi alasan melemahnya upaya pencegahan.

Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso, Abdul Majid, menekankan pentingnya strategi yang tepat sasaran, terutama dalam pelaksanaan tracing dan tracking.
Menurutnya, pondok pesantren menjadi salah satu lokasi strategis untuk dilakukan screening dan sosialisasi guna melindungi generasi muda.

“Pesantren harus benar-benar kita jaga agar santri terhindar dari penyakit yang berisiko tinggi,” tegasnya.

Tak hanya itu, Komisi IV juga mendorong pelaksanaan screening TB-HIV di lingkungan ASN Pemkab Bondowoso sebagai bentuk tanggung jawab moral dan keteladanan.

“Kami akan segera menyusun rencana aksi. Harapannya bisa dilaksanakan tahun ini dengan komitmen semua pihak,” katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajat. Ia meminta Dinas Kesehatan untuk semakin proaktif dalam menekan laju penyebaran HIV/AIDS, mengingat tantangan yang dihadapi tidak sebanding dengan besaran anggaran yang tersedia.

“Upaya pencegahan dan penanganan harus lebih serius dan terkoordinasi ke depan,” pungkasnya.(wan)