Dari Oli, Jeruk, hingga Jepang, Cara SMK Muhammadiyah 1 Malang Menempa Jiwa Wirausaha Siswa

oleh -323 Dilihat

KILASJATIM.COM, Malang – Angin dingin khas lereng Gunung Kawi mengiringi langkah sekelompok anak muda berseragam praktik yang menyusuri jalanan berlekuk di kawasan Dau, Kabupaten Malang. Di jemari mereka, beberapa botol pelumas Pertamina Lubricants tergenggam erat. Hari itu, misi mereka sederhana namun menantang, menjajakan oli langsung ke tangan warga lokal dan pengguna jalan di pelosok Malang.

Namun, ruang wirausaha di lapangan selalu punya jalurnya sendiri yang tak tertulis di lembar modul sekolah. Alih-alih pulang mengantongi lembaran rupiah, penawaran para siswa SMK Muhammadiyah 1 Malang ini justru mencair dalam percakapan hangat bersama seorang petani setempat yang baru saja memanen ladangnya. Terkadang tak ada transaksi tunai. Sepakat, kesepakatan ditutup lewat barter, beberapa botol oli Pertamina berpindah tangan, ditukar dengan beberapa kantong jeruk segar hasil panen sang petani.

Bagi para siswa, sepotong pengalaman di Dau itu menjelma menjadi pelajaran hidup yang tak ternilai. Berwirausaha tak lagi sebatas membawa barang dan menunggu pembeli datang. Ada keberanian untuk menyapa, keluwesan berkomunikasi, kejelian membaca peluang, hingga keberanian membangun kesepakatan di tengah ketidakpastian.

Pengalaman unik tersebut bukan kebetulan, melainkan bagian dari skema pembelajaran karakter dan wirausaha yang dirancang SMK Muhammadiyah 1 Malang. Langkah ini melanjutkan jejak panjang kemitraan yang telah terpatri sejak 2012, ketika sekolah ini resmi menjadi bengkel binaan PT Pertamina Lubricants (PTPL) melalui program Enduro Home Service (EHS).

Lewat EHS, para siswa jurusan otomotif roda dua tidak hanya diajari membongkar mesin di ruang praktik, tetapi juga diterjunkan langsung melayani servis kendaraan masyarakat umum serta menguji nyali mereka dalam menjajakan produk pelumas. Sekolah ingin meluluskan generasi yang tak cuma piawai memegang kunci, melainkan juga tangguh menciptakan peluang usahanya sendiri.

Kepala SMK Muhammadiyah 1 Malang, Kus Darmadi, menegaskan bahwa sekolah secara konsisten memeta pilihan masa depan siswa ke dalam tiga pilar utama bekerja, melanjutkan pendidikan atau berwirausaha.

Baca Juga :  Sekda Bondowoso Tekankan Kompetensi Penerapan Perpres 46/2025 dalam Pengadaan Barang/Jasa

“Untuk bekerja, kami konsentrasi ke pekerjaan luar negeri. Untuk melanjutkan pun juga akan kami arahkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang ada di luar negeri,” ujar Kus.

Sementara bagi siswa yang memilih jalan wirausaha, penggodokan mental bisnis telah dimulai sejak kelas X. Menurut Kus, edukasi bisnis di sekolahnya tak berhenti pada teori di atas kertas. Sekolah bahkan menyiapkan skema kucuran modal usaha untuk memperbesar bisnis yang mulai dirintis oleh peserta didiknya.

Menguji Nyali dan Membangun Kepercayaan

Corporate Secretary Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi, mengungkapkan bahwa keterlibatan perusahaan bertujuan memberi ? panggung nyata bagi para calon mekanik muda Indonesia.

“Kami ingin memberikan ruang bagi siswa SMK untuk menunjukkan kemampuan mereka dan melihat sejauh mana ilmu yang dipelajari dapat diterapkan dalam situasi nyata. Kami berharap siswa semakin percaya diri untuk mengembangkan potensi dan mempersiapkan diri menghadapi dunia otomotif profesional,” tutur Rika.

Program EHS dan ESC ini berpayung di bawah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Lubricants yang bernama Enduro Entrepreneurship Program (EEP). Sejak 2023, EEP telah berhasil melahirkan 169 bengkel binaan Pertamina Lubricants dengan akumulasi omzet menembus lebih dari Rp11 miliar.

Tak cuma menyasar sekolah vokasi, EEP juga merangkul kelompok masyarakat yang lebih luas mulai dari warga binaan pemasyarakatan, nelayan, penyandang disabilitas, hingga santri. Secara keseluruhan, program ini telah melatih lebih dari 7.284 orang dan menjangkau lebih dari 82.000 penerima manfaat di seluruh nusantara.

Dampak dari pembekalan yang sistematis ini terasa nyata di bengkel praktik sekolah. Bengkel SMK Muhammadiyah 1 Malang kini hidup sebagai laboratorium bisnis sekaligus ruang pelayanan umum.

Bagi seorang siswa kelas XII Teknik Bisnis Sepeda Motor (TBSM) 2, menekuni dunia otomotif adalah jalan untuk meneruskan tradisi keluarga.“Saya ingin menjadi mekanik. Karena keluarga saya sebagian itu mekanik juga. Karena itu saya ingin jadi penerus mereka,” ungkapnya mantap.

Baca Juga :  Ketua Komisi A DPRD Surabaya Salurkan 41 Hewan Kurban, Prioritaskan Warga hingga Ojol

Kini, impian menjadi mekanik jempolan itu berpadu dengan ketajaman naluri wirausaha. Menguasai seluk-beluk mesin berjalan seiring dengan kelihaian berkomunikasi dan melayani pelanggan.

Kepuasan itu dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Mahendra Wahyu Adi Wijaya, seorang pelanggan bengkel sekolah asal Universitas Brawijaya, memuji kedisiplinan dan kualitas pengerjaan para siswa.

“Dari pagi sampai sore, mereka nggak pernah telat. Terus mau datang pagi, siang pun masih diterima,” tutur Mahendra. Bagi para siswa, ulasan positif seperti ini menjadi bukti bahwa kepercayaan publik selalu lahir dari konsistensi dan kerja keras.

Menatap Masa Depan hingga Negeri Sakura

Peta jalan yang ditawarkan SMK Muhammadiyah 1 Malang tidak berhenti pada batas kota atau pasar lokal. Sekolah ini melangkah lebih jauh dengan membentangkan jalan internasional bagi siswanya melalui Japan Class Academy.

Direktur Japan Class Academy SMK Muhammadiyah 1 Malang, Arif Efendi, menjelaskan bahwa fasilitas ini disiapkan khusus untuk menggembleng siswa yang ingin menangkap peluang kerja maupun studi di Jepang. “Di kelas ini, para siswa dibekali kompetensi teknis yang relevan, penguasaan bahasa Jepang, serta pemahaman mendalam tentang etos kerja internasional,”ungkapnya.

Kehadiran Japan Class Academy melengkapi mozaik pilihan masa depan para peserta didik. Dari sebotol oli yang dijajakan hingga barter jeruk di kawasan pelosok Dau, hingga persiapan intensif menembus Negeri Sakura, SMK Muhammadiyah 1 Malang membuktikan bahwa keberhasilan pendidikan vokasi tak cukup diukur dari seberapa terampil jemari siswa memutar baut di ruang praktik.

Masa depan mereka dibentuk dari keberanian untuk melangkah, keluwesan beradaptasi, dan kesempatan luas untuk merajut cita-cita tanpa batas. Bahkan kini bengkel Tefa (sebutan bengkel SMK 1 Muhammadiyah) telah memiliki segmen tersendiri yakni kendaraan roda dua untuk menengah ke atas dan kendaraan roda dua pada umumnya. Merekapun memiliki alat tersendiri yang dibalut dengan teknologi canggih yang tidak dimiliki oleh bengkel lainnya. (kar)