Misi Dagang dan Investasi di Banda Aceh Bank Jatim Bawa UMKM Binaan,  Catat Transaksi Rp 1,218 Triliun 

oleh -51 Dilihat
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Aceh H. Fadhulullah, Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo, serta jajaran pemerintah dan pelaku usaha dari kedua daerah saya meninjau booth UMKM di acara Misi Dagang dan Investasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Banda Aceh, Senin (19/10). (ist/dok)

KILASJATIM. COM, Banda Aceh –  PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui dukungan terhadap kegiatan Misi Dagang dan Investasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Banda Aceh, Senin (19/10). Kegiatan tersebut mencatatkan capaian transaksi hingga Rp 1,218 triliun, sekaligus membuka peluang kerja sama perdagangan dan investasi antara pelaku usaha Jawa Timur dan Aceh.

Kegiatan ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Aceh H. Fadhulullah, Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo, serta jajaran pemerintah dan pelaku usaha dari kedua daerah. Kehadiran Bank Jatim menjadi bagian dari komitmen perseroan dalam memperkuat sinergi antardaerah sekaligus mendorong UMKM binaan agar semakin kompetitif dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

WInardi menjelaskan, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan UMKM, Bank Jatim mengikutsertakan tiga UMKM binaannya untuk memperkenalkan produk unggulan kepada calon pembeli dan mitra bisnis di Banda Aceh. Ketiga UMKM tersebut adalah Masnia Collection dari Pasuruan yang bergerak di bidang pakaian bordir, Sharleez Skincare dari Surabaya yang menawarkan produk perawatan kulit, serta Batik Gajah Mungkur dari Gresik yang menghadirkan produk batik. Partisipasi tersebut merupakan bentuk komitmen untuk mendukung pengembangan UMKM sekaligus memperkuat hubungan ekonomi antara Jawa Timur dan Aceh.

“Bank Jatim memandang Misi Dagang dan Investasi ini sebagai momentum strategis untuk mempertemukan potensi UMKM dengan peluang pasar yang lebih luas. Kami ingin memastikan bahwa UMKM binaan tidak hanya mendapatkan akses pembiayaan, tetapi juga kesempatan untuk memperluas jaringan bisnis, memperkenalkan produk unggulan, dan membangun kemitraan yang berkelanjutan. Melalui sinergi antara pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha, kami berharap UMKM Jawa Timur dapat terus berkembang, naik kelas, dan semakin kompetitif di pasar nasional maupun global,” ujar Winardi.

Menurutnya, perluasan pasar merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong keberlanjutan usaha UMKM. Karena itu, keterlibatan dalam forum perdagangan dan investasi seperti ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan kualitas produk, memahami kebutuhan pasar, serta menjajaki peluang kerja sama dengan mitra potensial dari berbagai daerah.

”Melalui partisipasi dalam Misi Dagang dan Investasi ini, Bank Jatim berharap hubungan perdagangan antara Jawa Timur dan Aceh semakin erat, peluang investasi semakin terbuka, dan semakin banyak UMKM yang mampu mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Ke depan, Bank Jatim akan terus mendorong penguatan ekosistem UMKM melalui sinergi lintas sektor, perluasan akses pasar, dan peningkatan inklusi keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan serta memberikan nilai tambah bagi Masyarakat,” pungkas Winardi.

Baca Juga :  Kanwil DJP Jatim I Targetkan Penerimaan Rp100 triliun di Tahun 2022

Sementara itu, Gubernur Khofifah mengatakan, misi dagang merupakan instrumen strategis pemerintah untuk membuka peluang perdagangan, memperluas jaringan bisnis, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang saling menguntungkan. Melalui forum ini, pelaku usaha dapat menjajaki kerja sama secara langsung berdasarkan potensi produksi dan kebutuhan pasar masing-masing daerah.

 “Misi dagang menjadi instrumen strategis. Kita ingin mempertemukan daerah yang memiliki komoditas dengan daerah yang membutuhkan pasokan, memperpendek rantai distribusi, memperluas pasar produk unggulan sekaligus memperkuat penggunaan produk dalam negeri,” ujarnya.

Khofifah menegaskan, capaian transaksi dalam misi dagang bukan hasil yang diperoleh secara instan. Sebelum kegiatan berlangsung, pemerintah melakukan proses kurasi pelaku usaha dan produk sedikitnya dua kali, serta menyelenggarakan business matching minimal lima kali, termasuk secara daring.

 Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dan potensi usaha dari kedua provinsi dapat dipertemukan secara lebih terarah sehingga peluang transaksi dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama bisnis yang berkelanjutan.

”Ke depan, kami berharap misi dagang dan investasi ini menjadi pintu masuk bagi kemitraan bisnis yang lebih luas, tidak hanya melalui transaksi saat kegiatan berlangsung, tetapi juga lewat kerja sama berkelanjutan antara pelaku usaha kedua daerah,” ungkapnya. (nov)

 

Misi Dagang dan Investasi di Banda Aceh Bank Jatim Bawa UMKM Binaan,  Catat Transaksi Rp 1,218 Triliun

 

KILASJATIM. COM, Banda Aceh –  PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui dukungan terhadap kegiatan Misi Dagang dan Investasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Banda Aceh, Senin (19/10). Kegiatan tersebut mencatatkan capaian transaksi hingga Rp 1,218 triliun, sekaligus membuka peluang kerja sama perdagangan dan investasi antara pelaku usaha Jawa Timur dan Aceh.

Kegiatan ini dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Aceh H. Fadhulullah, Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo, serta jajaran pemerintah dan pelaku usaha dari kedua daerah. Kehadiran Bank Jatim menjadi bagian dari komitmen perseroan dalam memperkuat sinergi antardaerah sekaligus mendorong UMKM binaan agar semakin kompetitif dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

 

WInardi menjelaskan, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan UMKM, Bank Jatim mengikutsertakan tiga UMKM binaannya untuk memperkenalkan produk unggulan kepada calon pembeli dan mitra bisnis di Banda Aceh.

Ketiga UMKM tersebut adalah Masnia Collection dari Pasuruan yang bergerak di bidang pakaian bordir, Sharleez Skincare dari Surabaya yang menawarkan produk perawatan kulit, serta Batik Gajah Mungkur dari Gresik yang menghadirkan produk batik. Partisipasi tersebut merupakan bentuk komitmen untuk mendukung pengembangan UMKM sekaligus memperkuat hubungan ekonomi antara Jawa Timur dan Aceh.

Baca Juga :  Dukung Pelaku Bisnis, ShopeePay Talk Ungkap Strategi Tangkap Peluang Ramadan 

“Bank Jatim memandang Misi Dagang dan Investasi ini sebagai momentum strategis untuk mempertemukan potensi UMKM dengan peluang pasar yang lebih luas. Kami ingin memastikan bahwa UMKM binaan tidak hanya mendapatkan akses pembiayaan, tetapi juga kesempatan untuk memperluas jaringan bisnis, memperkenalkan produk unggulan, dan membangun kemitraan yang berkelanjutan. Melalui sinergi antara pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha, kami berharap UMKM Jawa Timur dapat terus berkembang, naik kelas, dan semakin kompetitif di pasar nasional maupun global,” ujar Winardi.

Menurutnya, perluasan pasar merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong keberlanjutan usaha UMKM. Karena itu, keterlibatan dalam forum perdagangan dan investasi seperti ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan kualitas produk, memahami kebutuhan pasar, serta menjajaki peluang kerja sama dengan mitra potensial dari berbagai daerah.

”Melalui partisipasi dalam Misi Dagang dan Investasi ini, Bank Jatim berharap hubungan perdagangan antara Jawa Timur dan Aceh semakin erat, peluang investasi semakin terbuka, dan semakin banyak UMKM yang mampu mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Ke depan, Bank Jatim akan terus mendorong penguatan ekosistem UMKM melalui sinergi lintas sektor, perluasan akses pasar, dan peningkatan inklusi keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan serta memberikan nilai tambah bagi Masyarakat,” pungkas Winardi.

Sementara itu, Gubernur Khofifah mengatakan, misi dagang merupakan instrumen strategis pemerintah untuk membuka peluang perdagangan, memperluas jaringan bisnis, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang saling menguntungkan. Melalui forum ini, pelaku usaha dapat menjajaki kerja sama secara langsung berdasarkan potensi produksi dan kebutuhan pasar masing-masing daerah.

 “Misi dagang menjadi instrumen strategis. Kita ingin mempertemukan daerah yang memiliki komoditas dengan daerah yang membutuhkan pasokan, memperpendek rantai distribusi, memperluas pasar produk unggulan sekaligus memperkuat penggunaan produk dalam negeri,” ujarnya.

Khofifah menegaskan, capaian transaksi dalam misi dagang bukan hasil yang diperoleh secara instan. Sebelum kegiatan berlangsung, pemerintah melakukan proses kurasi pelaku usaha dan produk sedikitnya dua kali, serta menyelenggarakan business matching minimal lima kali, termasuk secara daring.

 Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dan potensi usaha dari kedua provinsi dapat dipertemukan secara lebih terarah sehingga peluang transaksi dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama bisnis yang berkelanjutan.

”Ke depan, kami berharap misi dagang dan investasi ini menjadi pintu masuk bagi kemitraan bisnis yang lebih luas, tidak hanya melalui transaksi saat kegiatan berlangsung, tetapi juga lewat kerja sama berkelanjutan antara pelaku usaha kedua daerah,” ungkapnya. (nov)