KILASJATIM.COM, Surabaya – Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR) Yogyakarta menghadirkan “Museum Tanpa Jangkar” dalam ARTSUBS 2026 di kompleks Balai Pemuda Surabaya. Eksperimen ini menawarkan gagasan bahwa museum tidak harus selalu bergantung pada gedung permanen.
Museum tersebut berupa struktur sementara berwarna hitam dengan ruang relatif gelap. Konsepnya mengajak publik melihat museum bukan semata sebagai bangunan, melainkan sebagai ruang untuk menyimpan, merawat, mengarsipkan, memamerkan, dan memperbincangkan karya seni.
Bagi KBUSR, konsep tersebut relevan dengan kondisi Surabaya yang hingga kini belum memiliki museum seni rupa. “Museum Tanpa Jangkar” sekaligus menjadi kritik konstruktif sekaligus tawaran alternatif terhadap kebutuhan infrastruktur seni di kota ini. “Museum tidak harus menunggu gedung permanen. Ia dapat tumbuh dari inisiatif seniman, dibangun sesuai kebutuhan, dan mengikuti konteks komunitas,” demikian gagasan yang ditawarkan KBUSR.
Melalui konsep “tanpa jangkar”, museum tidak terikat pada satu lokasi. Infrastruktur seni dapat dibangun sementara, berpindah, dan menyesuaikan kebutuhan komunitas tanpa kehilangan fungsi kebudayaannya.
Kehadiran KBUSR juga menegaskan bahwa persoalan museum bukan hanya soal bangunan, tetapi bagaimana ekosistem seni mampu merawat pengetahuan, mengarsipkan karya, menciptakan ruang pertemuan, serta memperkuat hubungan seniman dengan publik.
Gagasan tersebut dibahas dalam Wicara Seniman bersama Handiwirman, Kokok P. Sancoko, Hendra Himawan, dan Yuli Prayitno, dengan moderator kurator Asmudjo J. Irianto.(tok)
