KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Puskesmas Wonokasian, Sidoarjo, memperkuat pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan memetakan risiko hingga tingkat wilayah. Hingga September 2026, pemeriksaan melalui Gerakan Aksi Lawan Aedes aegypti (GALAKSY) telah menjangkau 6.360 dari 8.221 rumah atau 77,36% sasaran.
Pemeriksaan dilakukan petugas bersama kader dengan mendatangi rumah warga. Mereka tidak hanya mencari jentik nyamuk Aedes aegypti, tetapi juga memeriksa titik yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Warga kemudian diberikan edukasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus. Temuan di lapangan juga dicatat untuk menentukan tindakan dan tindak lanjut pada titik yang dinilai berisiko.
Kepala Puskesmas Wonokasian dr Saptandia Wulan Cahyaning Lestari mengatakan hasil pemeriksaan tersebut kemudian diolah melalui GALAKSY Risk Score (G-RISC).
Hasilnya dipetakan dalam tiga kategori risiko, yakni hijau, kuning, dan merah. Pemetaan itu digunakan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian dan intervensi lebih lanjut.
“Menemukan jentik bukanlah akhir pemeriksaan. Dari temuan itu kita menentukan apa yang harus dilakukan dan siapa yang perlu mendapat perhatian lebih,” kata Saptandia kepada Kilasjatim.com, Selasa (6/10/2026).
Salah satu pelaksanaan GALAKSY dilakukan di Desa Sawocangkring pada Jumat (25/9). Petugas dan kader memeriksa lingkungan rumah warga sekaligus memberikan edukasi mengenai pencegahan DBD.
Warga pun didorong tidak hanya memperhatikan bak mandi. Barang-barang di sekitar rumah yang berpotensi menampung air juga menjadi sasaran pemeriksaan.
Abdul Jalal (69), warga Desa Sawocangkring, mengaku pemeriksaan tersebut membuat keluarganya lebih memahami titik yang perlu diperhatikan.
“Sekarang kami lebih tahu bagian rumah yang harus diperiksa dan lebih rutin melakukan PSN,” ujarnya.
Sekretaris Desa Sawocangkring Kasan Muzaki mengatakan pencegahan DBD membutuhkan keterlibatan pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat.
Menurut dia, data hasil pemeriksaan dapat membantu desa mengetahui wilayah yang membutuhkan perhatian lebih dalam pengendalian DBD.
Bagi Puskesmas Wonokasian, capaian 77,36% tersebut bukan sekadar jumlah rumah yang telah diperiksa. Data lapangan menjadi dasar untuk membaca pola risiko dan menentukan prioritas penanganan di tingkat wilayah.
“GALAKSY membawa pesan sederhana: temukan risikonya, lakukan aksinya, kendalikan wilayahnya,” kata Saptandia. (TAM)
