KILASJATIM.COM, Surabaya – Arsitek Andy Rahman membawa filosofi Jawa Cakra Manggilingan dalam instalasi seni di ajang ARTSUBS di Balai Pemuda Surabaya. Karya tersebut diwujudkan menggunakan sekitar 1.800 keping bata hasil eksplorasi material. Instalasi berbentuk susunan bata hampir melingkar dengan sejumlah bata tampak melayang di bagian tengah.
Karya itu menjadi ruang bagi Andy untuk mempertemukan arsitektur Nusantara, filosofi tradisi, eksplorasi material, dan isu keberlanjutan lingkungan.
Andy Rahman, pendiri sekaligus principal Andyrahman Architect, mengatakan Cakra Manggilingan menggambarkan kehidupan yang terus berputar. Manusia tidak seharusnya sombong ketika berada di atas dan tetap bersyukur ketika berada di bawah. “Ketika masuk ke pameran seni, instalasi sudah tidak lagi berbicara soal fungsi, melainkan spesifik sebagai karya seni. Sebagai arsitek, seseorang tidak serta-merta menjadi seniman. Secara pribadi, kecintaan terhadap seni membantu mencurahkan sisi kreatif, tetapi latar belakang arsitektur tetap tidak bisa dilepaskan,” kata Andy dalam diskusi Wicara Seniman – Andy Rahman di selasar Balai Budaya Surabaya.
Alumnus Arsitektur ITS 2004 itu menjelaskan, sejak 2006 hingga 2026, praktik desainnya bergeser dari pendekatan arsitektur konvensional menuju eksplorasi arsitektur Nusantara dan material.
Menurut Andy, arsitektur Nusantara tidak sebatas meniru bentuk bangunan tradisional. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai iklim, geografi, ketersediaan material, hingga cara merespons kondisi lingkungan. “Arsitektur Nusantara yang terus berkembang adalah arsitektur yang secara aktif merespons kondisi nyata, seperti iklim, geografi, ketersediaan material, dan sinar matahari. Inilah yang dikembangkan, bukan sekadar bentuk fisiknya,” jelasnya.
Eksplorasi Andy juga menyasar pengembangan material bangunan yang lebih ramah lingkungan. Ia mengembangkan sejumlah jenis bata, mulai dari bata RMH, bata lego, bata berbahan tanah tidak subur tanpa pembakaran, hingga bata yang memanfaatkan limbah terakota dan plastik. Material tersebut dikembangkan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap eksploitasi sumber daya alam, termasuk tanah liat yang menjadi bahan bata konvensional.
Andy menilai arsitek memiliki tanggung jawab untuk mengurangi dampak pembangunan terhadap lingkungan. Karena itu, rancangan bangunan seharusnya mempertimbangkan kontur tanah dan mempertahankan objek alami yang sudah ada.
“Arsitektur harus meminimalkan kerusakan lingkungan,” tegas peraih Nominasi ArchDaily Building of the Year tersebut.
Andy berharap eksplorasi material dapat mendorong penggunaan limbah sebagai bahan bangunan masa depan. Menurut dia, keberlanjutan bukan hanya soal material, tetapi juga bagaimana manusia merespons alam dan memanfaatkan potensi lokal secara bijak.(tok)
