Ketika Gen Z Menggali Sejarah Genosida

oleh -85 Dilihat
Oleh
Titik
Reporter
Foto: Titik/kilasjatim.com

KILASJATIM.COM, Malang – Kegelisahan itu datang pada penghujung 2024, ketika Prabowo dilantik menjadi Presiden Indonesia. Sedang kasus pelanggaran HAM pada 1998 belum lagi usai dibincangkan. Yang hilang belum kembali, yang meninggal belum mendapat keadilan. Aksi Kamisan di depan istana negara masih berlangsung hingga kini. Tak heran Gen Z pun mempertanyakan, ada apa dengan negeri ini, Kamis, 1 Oktober 2026.

“Kami sangat takut kisah Mas Laut terulang, terjadi pada kami. Keadilan dibungkam dan ditenggelamkan,” kata Magda, mahasiswi yang sedang mengerjakan tugas skripsi di PTN Malang, saat dijumpai di kampusnya, Kamis (1/10/2026).

Mas laut yang dimaksud adalah, tokoh fiksi dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Dalam buku tersebut berkisah dua bersaudara, Laut dan adiknya. Laut yang mahasiswa menjadi aktivis 1998, Bersama rekan-rekanya aktif menyuarakan protes dan menggelar demo menentang penguasa orde baru. Hingga reformasi berlangsung dan Soeharto yang berkuasa 32 tahun berhasil ditumbangkan.

Magda mengaku, awalnya tidak mengetahui prihal reformasi 1998, ia mengetahui soal Gerakan mahasiswa 1998 dari twitter (X). Dari sanalah ia mulai berselancar dan bergabung dalam diskusi soal gerakan mahasiswa. Pada 2024 ia mulai membaca Laut Bercerita, disusul buku lain yang serupa, termasuk buku Metode Jakarta karya Vincent Bevins yang mengupas tentang peristiwa 1965.

Dari diskusi online sampailah pada pertemuan terbuka. Bersama Kawan-kawan di kampusnya berdiskusi soal genosida 65 yang menewaskan jutaan orang tidak bersalah. Gen Z yang sebelumnya kita anggap tidak melek Sejarah, diam-diam mengalih Kembali kebenaran berita. Lewat buku dan konten digital yang berserakan di jagad maya.

Dani dan Marcel yang terlibat dalam pembacaan buku Metode Jakarta, mengaku mendapat temuan baru dalam buku tersebut. Dimana Indonesia dijadikan medan uji coba oleh Amerika dalam menjalankan metode pembungkaman. Ketika seorang kepala negara yang dianggap membahayakan kekuasaan Amerika dan sekutunya dalam mengendalikan pengaruhnya tidak segan dihabisi. Bukan hanya dihabisi secara nyawa, juga ideologi dan seluruh orang yang dianggap pengikutnya.

Baca Juga :  Pesan Kecil dari Kotak Makan,Bukti Program MBG SPPG Sukowono Disambut Hangat Siswa

“Dalam buku tersebut disampaikan, aksi pembersihan sejak di Aceh sampai Bali. Dengan tuduhan sama, terlibat gerakan partai terlarang PKI. Tanpa pengadilan, tanpa penyelidikan. Seorang guru di Denpasar tiba-tiba dihabisi. Ia hanya seorang guru lho, bisa dibayangkan pagi masih mengajar malam sudah tidak ada, segampang itu melenyapkan orang,” katanya dalam diskusi beberapa waktu lalu.

Kegiatan pembersihan oleh negara yang ditulis oleh Vincent Bevins, menggambarkan keterlibatan negara dan kelompok Masyarakat tertentu. Dengan dalih agama dilakukan secara sistematis, melibatkan Amerika melalui agen CIA. Keberhasilan operasi di Inonesia segera di terapkan disejumlah negara seperti Chile, Brasil, Argentina, Guatemala dan masih banyak lagi.

“Menariknya buku ini ditulis dengan gaya ringan, sastrawi. Sekalipun dalamnya menyampaikan laporan peristiwa dengan data dan angka tahun. Jadi, kita yang anak muda lebih enak membacanya dan mencerna isinya. Lebih mudah memahami tentang peristiwa enam lima yang bentang waktunya jauh dari kita,” katanya Dani.

Usai membaca buku tersebut, orang-orang muda yang berasal dari berbagai kampus di Malang Raya melanjutkan pembacaan buku “Dalih Pembunuhan Masal, Gerakan 30 September Dan Kudeta Soeharto” dan buku ”Riwayat Terkubur, Kekerasan Anti Komunis 1965-1966 di Indonesia” keduanya karya John Roosa, dosen dan peneliti sejarah asal Canada.

Dari kegelisahan akan penguasa, diam-diam Gen Z yang disebut generasi strawberi kembali mengali sejarah. Dari peristiwa 1965 sampai 1998, Dimana orang-orang yang terlibat sudah tidak ada (meninggal), bahkan aktor utamanya telah diangkat menjadi Pahlawan oleh presiden sekarang.

Semuanya berangkat dari rasa penasaran, diskusi on line, membaca novel, laporan penelitian dan selanjutnya, masih berlangsung. Selamat merayakan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. (TQI)