KILASAJTIM.COM, Medan – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka peluang kolaborasi dengan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery untuk mengembangkan Museum Mpu Tantular di Sidoarjo.
Salah satu opsi yang dibahas yakni menitipkan sejumlah koleksi satwa yang diawetkan milik pendiri Rahmat International Wildlife Museum and Gallery, Tun Dr H Rahmat Shah, di Museum Mpu Tantular.
Khofifah menyampaikan rencana itu saat mengunjungi museum di Medan, Selasa (29/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Khofifah juga menerima penghargaan Satya Lencana Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) dari Rahmat Shah.
“Kami juga menawarkan kerja sama, mungkin satwa milik Pak Rahmat Shah bisa dititipkan di Jawa Timur. Kami juga menyiapkan ruangan khusus yang diatasnamakan beliau,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah, kolaborasi tersebut tidak hanya untuk menambah koleksi. Museum Mpu Tantular juga diharapkan semakin kuat sebagai ruang edukasi tentang sejarah, budaya, lingkungan, dan konservasi.
Khofifah mengatakan pengelolaan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery bisa menjadi referensi bagi pengembangan Museum Mpu Tantular.
Ia melihat museum sebagai ruang untuk mengenalkan sejarah dan budaya sekaligus memahami hubungan manusia dengan lingkungan.
“Luar biasa kedalaman keilmuannya. Kita ingin membangun koneksitas kesejarahan untuk membangun peradaban dan kearifan,” ujarnya.
Khofifah menilai pengalaman Rahmat Museum dapat memperkaya cara penyajian koleksi di Museum Mpu Tantular.
“Saya termasuk pencinta museum. Saya juga mengikuti bagaimana kita bisa menemukenali cultural background sebuah negara melalui museum,” katanya.
Dalam kunjungannya, Khofifah melihat koleksi satwa yang diawetkan dan ditata berdasarkan habitat aslinya. Koleksi museum tersebut mencapai lebih dari 2.600 jenis satwa dengan sekitar 5.600 spesimen dari berbagai belahan dunia.
Koleksinya antara lain African Big Five, Bear Room, Cats of the World, Pheasants of the World, Night Safari, berbagai jenis serangga, hingga satwa khas Indonesia seperti harimau Sumatra dan komodo. Museum itu juga memiliki koleksi kerangka satwa.
Rahmat Shah mengatakan koleksi tersebut dikembangkan sebagai sarana edukasi sekaligus untuk menumbuhkan kepedulian terhadap konservasi.
Ia menyebut sebagian pengetahuannya tentang satwa dan kegiatan berburu konservasi diperoleh dari pengalaman di sejumlah negara, termasuk Kanada, Amerika Serikat, dan Jerman.
“Sebagian saya belajar berburu di Kanada, Amerika, Jerman dan negara lainnya. Tapi tentu dengan rules yang harus kita patuhi,” kata Rahmat Shah.
Ia menekankan kegiatan tersebut harus mengikuti aturan yang berlaku dan tetap memperhatikan aspek konservasi.
Khofifah berharap penjajakan kerja sama tersebut bisa berlanjut menjadi kolaborasi yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Pengayaan koleksi dan materi edukasi di Museum Mpu Tantular diharapkan membuat museum semakin relevan sebagai ruang belajar, khususnya bagi generasi muda.
Rahmat Shah juga menekankan pentingnya kolaborasi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Berbuat kebaikan, sekecil apa pun, pasti ada manfaatnya,” ujarnya. (FRI)
