KILASJATIM.COM, Surabaya – Menjelang pergantian kepemimpinan melalui Musyawarah Nasional (Munas) Aptikom VII, Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) didorong tidak sekadar melakukan regenerasi pengurus, tetapi juga mengubah cara kerja organisasi agar manfaatnya lebih merata hingga ke daerah.
Ketua Aptikom Provinsi Jawa Timur, Yoyon Arie Budi Suprio, S.ST., M.Kom., mengatakan Munas menjadi momentum memperkuat konsolidasi sekaligus memastikan pemerataan kualitas pendidikan tinggi bidang informatika dan komputer. “Mandat ini membawa amanah besar untuk mengorkestrasi potensi akademisi, peneliti, dan praktisi IT dari seluruh pelosok negeri agar bergerak serentak merespons tantangan era kecerdasan buatan dan transformasi digital,” kata Yoyon.
Ia berharap kepemimpinan Aptikom periode 2026–2030 memperkuat peran pengurus wilayah melalui pendampingan akreditasi, peningkatan kapasitas, kolaborasi riset, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta sinergi dengan pemerintah daerah dan industri lokal.
Sementara itu, Wakil Ketua III Aptikom Jawa Timur Bidang Humas dan Kelembagaan, Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA., menyoroti pentingnya pemerataan akses dalam organisasi.
Menurutnya, program nasional tidak boleh hanya dinikmati kelompok atau wilayah yang sudah memiliki jejaring kuat. “Jangan sampai APTIKOM besar di tingkat pusat, tetapi manfaatnya tidak terasa di wilayah,” ujar Supangat.
Ia mendorong ruang yang lebih terbuka bagi kampus, dosen, peneliti, pemimpin muda, dan wilayah yang selama ini belum banyak mendapat kesempatan. Prinsip meritokrasi, menurutnya, perlu diterapkan berdasarkan kemampuan dan kontribusi, bukan kedekatan. “Tidak boleh ada lagi logika ‘orang kita’ dan ‘bukan orang kita’. Tidak seharusnya ada wilayah yang memperoleh akses lebih besar hanya karena kedekatan dengan pusat,” tegasnya.
Supangat juga mengusulkan Dashboard Dampak dan Pemerataan Aptikom untuk mengukur keterlibatan wilayah, distribusi program, akses internasional, jejaring industri, serta peningkatan kapasitas anggota. “Kalau indikator terbuka, keberhasilan tidak lagi hanya menjadi klaim. Data yang akan berbicara,” ujar Supangat.
Menurut Supangat, pergantian kepemimpinan harus diikuti perubahan sistem agar regenerasi tidak berhenti pada pergantian nama pengurus. “Pergantian orang tanpa perubahan sistem hanya berisiko memindahkan lingkaran lama menjadi lingkaran baru. Yang diperlukan adalah perubahan cara kerja,” tambah Supangat.
Munas Aptikom VII menjadi momentum penetapan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal periode 2026–2030 sekaligus menentukan arah organisasi dalam menghadapi transformasi digital, AI, penguatan wilayah, transparansi, dan pemerataan manfaat bagi anggota.(tok)
