KILASJATIM.COM, Surabaya – ArtSubs menghadapi tantangan kemandirian finansial dan keterbatasan infrastruktur seni rupa dalam pengembangannya di Surabaya. Sebagai inisiatif privat dan independen, ArtSubs tidak mendapat dukungan dana negara maupun mengandalkan pola penyewaan booth konvensional. Persoalan tersebut dibahas dalam diskusi bersama Kurator ArtSubs Asmudjo J. Irianto dan Nirwan Dewanto di Balai Budaya Surabaya.
Asmudjo menjelaskan ArtSubs dikembangkan sebagai format hibrida yang mempertemukan karakter art fair dan biennale. Selain transaksi karya, kegiatan ini memberi ruang bagi eksperimentasi artistik dan melibatkan seni rupa, arsitektur, desain, serta fotografi. “ArtSubs dapat dipahami sebagai bentuk hibridisasi antara artist fair dan biennale,” terang Asmudjo J. Irianto.
Menurut Kurator ArtSubs Nirwan Dewanto, Surabaya memiliki potensi ekonomi dan jejaring kolektor yang besar. Namun, potensi tersebut belum didukung infrastruktur seni yang memadai, seperti museum seni dan gedung pameran representatif.
Keterbatasan fasilitas dan tenaga profesional, termasuk art handler, menjadi tantangan dalam penyelenggaraan pameran berskala besar. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai menjadi bagian dari alasan ArtSubs hadir di Surabaya untuk memperkuat ekosistem seni rupa kota.
Nirwan mengatakan ArtSubs memasuki tahun ketiga sebagai proyek eksperimental yang diarahkan untuk menjaga kesinambungan pengembangan seni rupa.
Selain aspek komersial, ArtSubs juga diposisikan sebagai ruang edukasi dan perjumpaan publik dengan karya seni. Asmudjo menilai keberadaan ruang pamer penting untuk membangun kepekaan estetik, imajinasi, dan kreativitas masyarakat. “ArtSubs tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan komersial, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik dan ruang pembentukan nilai-nilai kewargaan,” tutup Nirwan.(tok)
