Semeru Erupsi Senin Malam, Dentuman Keras Terekam CCTV

oleh -74 Dilihat
Oleh
Redaksi
Reporter
Gunung Semeru kembali erupsi pada Senin malam disertai dentuman keras. (Foto: Istimewa)

KILASJATIM.COM, Lumajang — Gunung Semeru kembali erupsi pada Senin (28/9/2026) malam. Erupsi yang terjadi pukul 21.01 WIB itu disertai suara dentuman keras yang terekam kamera CCTV pemantauan.

Dalam rekaman CCTV, suara dentuman terdengar sekitar pukul 21.02.22 WIB, atau sekitar satu menit setelah erupsi terjadi.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Rita Susilawati membenarkan suara tersebut berasal dari aktivitas erupsi Semeru.

“Suara dentuman karena terjadinya erupsi,” kata Rita saat dikonfirmasi, Selasa (29/9/2026).

Menurut Rita, dentuman saat gunung api erupsi bukan fenomena yang luar biasa. Suara keras bisa muncul dalam suatu erupsi, tetapi tidak selalu menyertainya.

“Biasa terjadi. Kadang erupsi Gunungapi dapat disertai dengan dentuman, kadang tidak,” ujarnya.

Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru PVMBG, erupsi tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 600 meter di atas puncak.

Dengan ketinggian puncak Semeru sekitar 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl), kolom erupsi teramati mencapai sekitar 4.276 mdpl.

Abu vulkanik berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak ke arah barat daya.

Aktivitas erupsi juga terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm. Durasi erupsi tercatat sekitar 2 menit 9 detik.

Hingga laporan ini dibuat, aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III (Siaga).

PVMBG mengingatkan masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi rekomendasi keselamatan di sekitar Gunung Semeru.

Warga dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak. Di luar jarak tersebut, warga juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan.

Area tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.

Baca Juga :  Gunung Semeru Kembali Dibuka! Pendakian Hanya Sampai Ranu Kumbolo, Ini Syaratnya

Selain itu, aktivitas masyarakat juga dilarang dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Semeru karena kawasan tersebut rawan lontaran batu pijar.

PVMBG turut meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar hujan di sepanjang aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Rekomendasi tersebut penting dipatuhi karena karakteristik bahaya Semeru tidak hanya berasal dari material yang terlontar saat erupsi, tetapi juga dari awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat mengalir mengikuti lembah sungai. (cit)