Caregiver Perlu Pahami Tahapan Demensia

oleh -104 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Mendampingi orang dengan demensia tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Caregiver perlu memahami tahapan demensia, menyesuaikan pola pendampingan, menjaga aktivitas sosial dan kognitif, serta memperhatikan pola makan.

Sahabat Alzheimer Indonesia, Julitta Fitrin Elyanarih, mengatakan kebutuhan pendampingan berbeda pada setiap tahap demensia. Pada fase awal, orang dengan demensia belum tentu membutuhkan pendampingan selama 24 jam, tetapi tetap perlu ditemani dalam aktivitas tertentu, termasuk bersosialisasi dan menjalankan hobi. “Kalau masih fase awal, mungkin tidak 24 jam. Tapi tetap harus ditemani, termasuk untuk kegiatan di luar rumah, menjalankan hobi atau bersosialisasi,” terang Julitta.

Memasuki fase menengah, kebutuhan pengawasan dapat meningkat sehingga caregiver perlu memberikan pendampingan lebih intensif. Menurut Julitta, keluarga juga perlu memahami diagnosis dan perjalanan demensia agar mampu menyesuaikan cara berkomunikasi serta memberikan perawatan. “Yang pertama, diagnosis itu harus dipahami. Kita perlu tahu perjalanan dan progresinya seperti apa. Dengan mengetahui tahapan-tahapannya, caregiver akan lebih siap menghadapi perubahan yang terjadi,” ujarnya.

Julitta menambahkan, menerima kondisi orang yang dirawat menjadi bagian penting dalam menjalani peran sebagai caregiver. Rasa lelah dan berkurangnya kesabaran merupakan hal yang manusiawi karena perawatan dapat berlangsung setiap hari.
Selain pendampingan, aktivitas kognitif juga dapat dilakukan melalui senam otak.

Gerakan yang melibatkan koordinasi dan konsentrasi tersebut dapat dilakukan sambil duduk maupun berdiri, dengan penyesuaian sesuai kemampuan. “Kalau yang masih normal malah happy. Gerakannya sebenarnya menggali ingatan kita. Kalau yang demensia biasanya kita bantu gerakannya pelan-pelan, tapi mereka tetap senang,” tambah Julitta.

Dari sisi pola makan, Dosen Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya (Ubaya), Ruth Chrisnasari, menekankan pentingnya konsumsi makanan sehat dan segar. Ia menjelaskan makanan kaya antioksidan, termasuk sayur dan buah, dapat menjadi bagian dari pola konsumsi yang mendukung kesehatan. “Yang paling ideal atau yang paling baik buat para lansia, makan makanan yang sehat, fresh,” ujar Ruth.

Baca Juga :  404 Ribu Pemudik Sudah Kembali ke Bali via Ketapang, Arus Masih Padat

Ruth juga menjelaskan konsep pangan fungsional, yakni pangan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi memiliki fungsi tambahan. Pengembangan bahan pangan lokal menjadi salah satu peluang untuk mendukung pola konsumsi yang lebih sehat.

Kegiatan yang membahas pendampingan lansia dan demensia tersebut digelar Sabtu (26/9/2026) di Rumah Sakit Ubaya. Acara tersebut merupakan kolaborasi Center for Aging Wellness (CAW), Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham), PUI-PASDEG Ubaya, Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, Rumah Sakit Ubaya, Alzheimer Indonesia, Rotary Club Surabaya Rungkut, serta IKA Ubaya, IKA Fakultas Kedokteran dan IKA Psikologi.(tok)