KILASJATIM.COM, Malang – Dunia di Kepala Jingga, sebuah antologi yang dirayakan pada Hari Literasi. Melalui lima belas cerita pendek yang menggabungkan fakta dan fiksi, kita dapat membaca perjalanan peristiwa di negeri ini.
Dari luka batin korban 1998 lewat tokoh Putri pada cerpen Bayangan Neno, virus flu burung yang hinggap pada 2005 turut mewarnai cerita Taman Dekat Rumah lewat tokoh Bulan, bocah yang kehilangan “kawan” bermain sepulang sekolah, ketika orang tuanya sibuk bekerja. Serta pembunuhan di Pasar Besar pada 2019 yang di rajut dalam cerita Maria.
“Cerita ini lahir dari keresahan, menyaksikan bermacam kejadian disekitar saya. Lantas saya observasi dan coba temukan benang merah, jadilah cerita pendek seperti yang kalian baca,” katanya, Senin (14/9/2026).
Hampir sebagian cerita, menghadirkan perempuan dan anak-anak sebagai tokoh utama. Dengan latar belakang berbeda, dari bocah bernama Jingga yang terperosok dalam lubang pohon, masuk dalam pertemuan kawanan binatang. Membahas kejahatan manusia yang merusak alam dan berniat membalas dengan cara mereka sendiri. Seperti serangan ulat bulu dan Tomcat, seperti yang pernah terjadi di Jakarta dan Situbondo.
Tema lingkungan juga diangkat dalam cerpen Senja, mengisahkan mahasiswi, aktivis lingkungan yang mempertahankan hutan kota yang berakhir dengan letupan senjata. Dengan setting yang sama cerpen Bangau menghadirkan kakek Malingka yang dilabeli anggota partai terlarang karena mempertahankan daerah resapan air di Alambau, Malang.
Penulis asal Malang, A Elwiq Pr, menyebut buku tersebut sangat menarik dan bisa dikategorikan dalam genre eko feminisme. Sebab dalam beberapa cerita menyampaikan tentang perjuangan perempuan untuk kemanusiaan dan lingkungan.
“Seperti dalam cerpen Kupu Gajah, Senja, Bangau dan lainnya mengisahkan tentang kerusakan lingkungan dan perubahan iklim membuat punahnya kupu bersayap besar, karena habitat nya hilang. Begitu pula dengan hutan kota yang beralih fungsi, dari daerah resapan air menjadi perumahan. Menariknya, semuanya itu bukan sekadar fiksi. Jejaknya bisa dicari di internet,” katanya saat diskusi kecil beberapa waktu lalu.
Sedang dosen Unisma, Ari Ambarwati menyampaikan, bahwa sastra anak dan sastra untuk orang dewasa hampir tidak memiliki sekat. Seringkali sastra anak tidak ditulis anak-anak tapi orang dewasa. Dan orang dewasa yang menulis cerita anak, merasa lebih aman dalam menyampaikan protes atau ide-ide lain dibalik tokoh anak.
Seperti tokoh Jingga yang terperosok di akar pohon dan melakukan perjalanan pada dunia binatang. Meski pertemuan itu hanya mimpi, namun tetap ada pesan moral yang ingin disampaikan.
“Apa iya sastra anak hanya dibaca anak-anak, kan tidak. Justru orang dewasa juga membaca sastra anak, ada kerinduan, ada kemungkinan untuk membaca ulang cerita yang relate dimasa lalu, entah itu tragedi atau hal lain yang ditemui masa sekarang. Apakah buku ini menjawab pertanyaan itu silahkan dibaca.” katanya saat di jumpai dirumahnya akhir pekan lalu.
Menurut penulis buku Dunia di Kepala Jingga, Titik Qomariyah, antologi cerpen tersebut kumpulan cerita pendek yang ditulis sejak 2003. Tersebar di sejumlah media dari Jawa Pos, Surabaya News, Surabaya Post, Radar Malang, Malang Post dan masih banyak lagi.
Adapun tema yang diangkat, selain tentang lingkungan, perempuan, kemanusiaan dan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena latar belakang penulis yang jurnalis, hampir semua cerita yang ditulis adalah peristiwa yang pernah terjadi pada masa ketika bertugas meliput berita. Dan jejak peristiwa dapat dilacak pada mesin pencari google. (TQI)
