Festival Kopi Nusantara 9 dan Tembakau 2026 Jadi Jembatan Bondowoso Tembus Pasar Global

oleh -340 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Festival Kopi Nusantara 9 dan Tembakau Tahun 2026 di Kabupaten Bondowoso tak sekadar menjadi ajang memamerkan potensi kopi dan tembakau daerah. Festival yang digelar selama delapan hari tersebut juga menjadi ruang pertemuan antara petani, pelaku usaha dan buyer dari berbagai daerah hingga mancanegara.

Momentum pembukaan festival, Jumat (28/8/2026), dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas.

Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid mengatakan, kopi dan tembakau merupakan bagian penting dari potensi ekonomi masyarakat. Di balik setiap produk yang dihasilkan, terdapat kerja keras dan ketekunan para petani yang selama ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kedua komoditas tersebut.

“Ketika kita berbicara tentang kopi dan tembakau, maka kita berbicara tentang perjuangan para petani,” ujar Abdul Hamid.

Menurutnya, festival tersebut tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan harus mampu membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan pelaku usaha.

Karena itu, penguatan hilirisasi, promosi produk, perbaikan pengemasan, perluasan pasar hingga penguatan posisi petani dalam rantai nilai tambah menjadi bagian penting yang perlu terus didorong.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso, Mulyadi. Ia menjelaskan, salah satu konsep utama Festival Kopi Nusantara 9 dan Tembakau 2026 adalah mempertemukan secara langsung pelaku usaha dengan buyer.

Festival kali ini diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah pelaku usaha dari Nusa Tenggara Timur, Bandung, Probolinggo, Jember hingga Banyuwangi turut ambil bagian.

Kehadiran buyer juga tidak hanya berasal dari dalam negeri. Mulyadi menyebut terdapat buyer dari Polandia dan Belanda yang datang untuk melihat secara langsung potensi produk kopi dan tembakau yang ditampilkan dalam festival.

Baca Juga :  Cegah Keterlibatan Personel dalam Praktik Judi Online, Dandim 0815/Mojokerto Lakukan Sidak

“Jadi kita mempertemukan antara buyer dengan para pelaku usaha kopi maupun tembakau. Ada juga beberapa peserta yang ikut dari luar Jawa,” kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi, kehadiran para buyer tersebut akan dimanfaatkan secara maksimal. Para peserta festival memiliki stok kopi maupun tembakau yang dapat ditawarkan kepada buyer melalui agenda lelang.

“Semua peserta yang mengikuti festival ini mempunyai stok. Stoknya itu yang akan kita lelang kepada buyer-buyer yang hadir di sini,” jelasnya.

Menariknya, buyer asal Polandia dan Belanda tidak hanya ditempatkan sebagai calon pembeli. Mereka juga dilibatkan dalam proses penilaian, termasuk dalam kegiatan penjurian uji cita rasa kopi.

Keterlibatan buyer internasional tersebut dinilai menjadi peluang bagi Bondowoso untuk memperkenalkan kualitas kopi dan produk lokal lainnya secara langsung kepada pasar global.

Target Ekspor Bawa Nama Bondowoso

Bupati Abdul Hamid Wahid menegaskan, pengembangan kopi dan tembakau harus diarahkan agar tidak berhenti pada pengakuan di tingkat nasional. Produk Bondowoso harus terus didorong agar memiliki daya saing hingga pasar global.

Langkah tersebut sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Bondowoso 2025–2029, yakni “Mewujudkan Bondowoso Tangguh, Unggul, Berdaya Saing Global, dan Berbudaya dalam Bingkai Keimanan dan Ketakwaan”.

Pengembangan komoditas lokal juga menjadi bagian dari misi pembangunan ekonomi inklusif dengan memanfaatkan potensi perekonomian daerah secara berkelanjutan.

Mulyadi menambahkan, salah satu target jangka panjang pemerintah adalah memastikan ekspor kopi benar-benar membawa identitas Bondowoso. Sebab, selama ini sebagian produk kopi masih diekspor melalui pihak ketiga sehingga nama Bondowoso belum sepenuhnya muncul sebagai identitas eksportir.

“Maunya Bapak itu bagaimana ekspor kopi yang dari Bondowoso ini benar-benar membawa nama Bondowoso. Sementara ini kita masih menggunakan pihak ketiga, bukan murni dari eksportir Bondowoso,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bupati Hamid Wahid Ajak Golkar Jadi Mitra Strategis Pemerintah di Musda XI Bondowoso

Untuk mewujudkan target tersebut, Pemkab Bondowoso mulai membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ILO.

Sebelumnya, sejumlah pihak juga telah melakukan kunjungan langsung ke lokasi perkebunan kopi dan bertemu dengan para pelaku usaha untuk melihat potensi sekaligus kondisi yang ada di lapangan.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem kopi Bondowoso dari sektor hulu hingga hilir. Penguatan tidak hanya menyangkut kualitas produksi, tetapi juga akses pembiayaan, pemasaran, pengolahan serta pembukaan jalur ekspor yang lebih kuat.

Sementara itu, Bupati Abdul Hamid Wahid mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menyukseskan pelaksanaan festival. Masyarakat diminta menjaga kebersihan, ketertiban dan keselamatan selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.

Melalui Festival Kopi Nusantara 9 dan Tembakau 2026, Bondowoso ingin menunjukkan bahwa kopi dan tembakau bukan sekadar komoditas lokal. Dengan kualitas, inovasi dan kolaborasi yang terus diperkuat, produk dari kawasan lereng Ijen dan Argopuro tersebut diharapkan semakin dikenal dan diminati hingga mampu membawa nama Bondowoso ke pasar dunia.(wan)