KKN UIN Madura dan Elysia Pamekasan Kolaborasi Dorong Inovasi Alpukat sebagai Produk Pangan dan Kecantikan di Desa Tlagah

oleh -372 Dilihat

KILASJATIM.COM, Pamekasan — Potensi desa tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila hanya berhenti sebagai hasil panen yang dijual dalam bentuk mentah. Berangkat dari semangat tersebut, Mahasiswa KKN Reguler Posko 10 UIN Madura menggelar seminar bertajuk Menggali Potensi Desa Melalui Inovasi Pengolahan Alpukat Menjadi Puding Alpukat sebagai Produk Unggulan UMKM Desa Tlagah.”

Kegiatan yang berlangsung di Desa Tlagah, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, tersebut berkolaborasi dengan Elysia Pamekasan, usaha yang bergerak di bidang kecantikan dan perawatan kulit. Seminar dihadiri Kepala Desa Tlagah beserta perangkat desa, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, serta masyarakat yang antusias mengikuti kegiatan.

Hadir pula tim Elysia Pamekasan yang turut mendukung kegiatan sebagai bentuk sinergi antara dunia usaha dan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal desa.

Seminar menghadirkan Zainullah, M.E., dosen sekaligus pengusaha yang dikenal sebagai Owner Kedai Kak Zain, Owner Rumah Kriyuk, Owner Toko Zain Barokah, serta Konsultan Industrial Entrepreneurship Jawa Timur. Melalui pengalaman akademik dan bisnisnya, Zainullah memberikan wawasan mengenai pentingnya inovasi, kreativitas, dan keberanian dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.

Dalam sambutannya, Koordinator Desa KKN Posko 10 UIN Madura, Royhanul Hakim, menyampaikan bahwa Desa Tlagah memiliki potensi besar, khususnya di sektor pertanian. Alpukat dan durian yang menjadi komoditas unggulan desa dinilai memiliki kualitas baik dan berpeluang dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

“Desa Tlagah memiliki potensi yang besar, terutama dari hasil pertanian seperti alpukat dan durian yang kualitasnya sangat baik. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat bahwa hasil pertanian tidak hanya bisa dijual sebagai buah segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi, seperti puding alpukat. Kami berharap kegiatan ini dapat membuka wawasan masyarakat untuk lebih berani berinovasi dan mengembangkan potensi desa yang dimiliki,” ungkap Royhanul Hakim.

Baca Juga :  Arumi Bachsin Harapkan Kader PKK Bisa Bantu Pembangunan Jatim

Menurut Royhanul, seminar tersebut tidak hanya bertujuan memperkenalkan inovasi pengolahan alpukat menjadi puding, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat dalam melihat peluang ekonomi di balik potensi desa.

Potensi hasil pertanian yang melimpah, kata dia, tidak akan memberikan dampak ekonomi secara optimal apabila hanya dijual sebagai bahan mentah. Karena itu, diperlukan perubahan mindset agar masyarakat mampu mengolah sumber daya lokal menjadi produk yang lebih kreatif, memiliki nilai tambah, dan mampu bersaing di pasaran.

Salah satu hal menarik dalam kegiatan tersebut adalah kolaborasi dengan Elysia Pamekasan. Kehadiran Elysia memberikan perspektif baru bahwa alpukat tidak hanya memiliki potensi sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat dikembangkan dalam sektor kecantikan.

Kandungan nutrisi pada alpukat selama ini dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan kulit sehingga berpotensi menjadi inspirasi pengembangan berbagai produk perawatan dan kecantikan. Perspektif tersebut memperluas pemahaman masyarakat mengenai peluang ekonomi yang dapat lahir dari satu komoditas lokal.

Kolaborasi ini sekaligus menunjukkan bahwa alpukat dapat membuka peluang usaha di berbagai sektor. Jika selama ini alpukat lebih banyak dipandang sebagai buah konsumsi, seminar tersebut mengajak masyarakat melihat potensi yang lebih luas, baik di bidang kuliner maupun kecantikan.

Dengan demikian, nilai ekonomi komoditas lokal dapat terus ditingkatkan melalui inovasi dan kreativitas.

Dalam sesi materi, Zainullah, M.E. menekankan bahwa keberhasilan suatu usaha sering kali berawal dari kemampuan melihat peluang yang ada di sekitar. Menurutnya, desa memiliki kekuatan besar apabila mampu mengembangkan produk yang berangkat dari potensi lokalnya sendiri.

Produk yang unik, memiliki ciri khas, dan didukung inovasi dinilai memiliki peluang untuk lebih dikenal serta memiliki daya saing di pasar.

Baca Juga :  Bank Mandiri dan OttoDigital Bersinergi, Dorong Pertumbuhan UMKM Lewat Akses Pembiayaan Inovatif

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Sejumlah pertanyaan dan diskusi muncul, mulai dari pengolahan produk, strategi pemasaran, hingga peluang pengembangan usaha berbasis alpukat. Hal tersebut menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat untuk mengembangkan potensi yang selama ini dimiliki menjadi usaha yang lebih produktif.

Melalui kegiatan tersebut, Mahasiswa KKN Posko 10 UIN Madura berharap lahir semangat baru di tengah masyarakat Desa Tlagah untuk terus berinovasi dan memanfaatkan potensi lokal secara maksimal.

Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bahwa kemajuan desa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengelola dan mengembangkannya menjadi produk bernilai ekonomi.

Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, akademisi, pelaku usaha, dan Elysia Pamekasan diharapkan dapat membuka peluang lahirnya berbagai produk unggulan dari Desa Tlagah.

Dengan inovasi yang berkelanjutan, Desa Tlagah tidak hanya diharapkan dikenal sebagai penghasil alpukat dan durian, tetapi juga sebagai desa yang mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.(guh)