Fenomena Pagar Besi Mal Surabaya, Arsitek Soroti Kesan Eksklusif

oleh -221 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
Foto: Ist

KILASJATIM.COM, Surabaya – Fenomena pagar besi yang mulai bermunculan di area luar sejumlah pusat perbelanjaan di Surabaya memantik perhatian publik. Selain dikaitkan dengan aspek keamanan, keberadaan pembatas fisik itu juga dinilai memengaruhi wajah kota dan kesan sebuah ruang publik.

Dosen Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra, Rully Damayanti, menilai pemasangan pagar memang lazim dilakukan untuk meningkatkan keamanan, mengatur sirkulasi pengunjung, maupun menyesuaikan perubahan infrastruktur jalan. Namun, dari sisi arsitektur, keberadaan pagar seharusnya tetap menyatu dengan karakter bangunan utama.

Rully Damayanti, S.T., M.Art., Ph.D., dosen Arsitektur & Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra. (Foto: Humas UK Petra Surabaya)

Menurut Rully, elemen seperti material, warna, hingga pola bentuk pagar idealnya mengulang bahasa desain bangunan agar tercipta kesatuan visual. Tanpa keterkaitan tersebut, pagar berpotensi mengurangi kualitas estetika dan membuat bangunan tampak terpisah dari lingkungannya.

Tak hanya soal tampilan, Rully mengatakan pagar juga memengaruhi persepsi masyarakat terhadap sebuah bangunan. Pagar yang terlalu tinggi dapat membatasi pandangan dan menimbulkan kesan eksklusif, padahal pusat perbelanjaan merupakan fasilitas publik yang seharusnya terasa terbuka dan mudah diakses.

Ia menjelaskan, pendekatan desain yang mengedepankan pembatasan akses dan keamanan dikenal sebagai arsitektur defensif. Konsep ini diterapkan untuk mencegah tindak kriminal, vandalisme, maupun kerusakan fasilitas melalui berbagai elemen fisik.

“Implementasinya dapat berupa pagar tinggi dengan bilah horizontal atau ujung tajam yang mengarah ke luar untuk menghambat intrusi,” ujar Rully dalam keterangannya yang dikutip, Senin (27/7/2026).

Selain pagar, strategi tersebut juga dapat diwujudkan melalui penataan lanskap, pencahayaan, pengaturan akses, hingga elemen penghalang seperti kolam yang mengelilingi bangunan. Bahkan, dalam sejarah arsitektur pertahanan, konsep serupa diterapkan melalui parit berair sebagai lapisan perlindungan tambahan.

Meski demikian, Rully menawarkan pendekatan yang lebih ramah melalui konsep soft border atau pembatas halus. Konsep ini memanfaatkan pagar tanaman, material transparan, maupun kombinasi vegetasi sebagai pembatas area tanpa menciptakan kesan tertutup.

Baca Juga :  Unusa Dorong Diagnosis TB Berbasis AI dan Genomik

Menurutnya, pagar dengan tinggi sekitar 80 sentimeter sudah cukup untuk menandai batas kawasan sekaligus menjaga koneksi visual masyarakat dengan bangunan.

“Fungsi keamanan tetap dapat berjalan tanpa menghilangkan kesan terbuka yang semestinya dimiliki sebuah fasilitas publik,” pungkasnya. (cit)