Bondowoso Siap Jadi Percontohan Pertanian Modern, Bupati Paparkan Potensi dan Ajukan Dukungan Pemerintah Pusat

oleh -358 Dilihat

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Pemerintah Kabupaten Bondowoso menegaskan kesiapannya menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan pertanian modern berbasis teknologi sekaligus memperkuat kontribusi terhadap program swasembada pangan nasional. Komitmen tersebut disampaikan Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, saat menerima kunjungan perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia.

Di hadapan rombongan pemerintah pusat, Bupati memaparkan berbagai potensi, capaian, hingga kebutuhan sektor pertanian Bondowoso. Menurutnya, kabupaten yang dikenal sebagai daerah agraris itu memiliki luas lahan pertanian mencapai 35.093 hektare dengan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas 45.000 hektare.

Didukung kondisi geografis dataran tinggi yang subur dan iklim yang mendukung, Bondowoso mampu menjadi salah satu lumbung pangan di Jawa Timur. Sepanjang tahun 2025, produksi padi Bondowoso tercatat mencapai 600 ribu ton, menjadi bukti besarnya kontribusi daerah dalam mendukung ketahanan dan swasembada pangan nasional.

“Produksi tersebut merupakan hasil kerja keras para petani, penyuluh pertanian lapangan, serta dukungan berbagai pihak yang terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian di Bondowoso,” ujar Abdul Hamid Wahid.

Tak hanya mengejar peningkatan produksi, Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga terus mengembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan. Saat ini, kawasan pertanian organik telah mencapai sekitar 230 hektare yang tersebar di Desa Sulek, Desa Lombok Kulon, dan Desa Gadingsari. Kawasan tersebut difokuskan pada pengembangan beras organik yang memiliki kualitas tinggi, aman dikonsumsi, sekaligus bernilai ekonomi lebih tinggi bagi petani.

Keunggulan sektor pertanian Bondowoso juga diperkuat dengan diraihnya pengakuan Indikasi Geografis (IG) terhadap Beras Sintanur Lembah Raung pada tahun 2025 melalui Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG). Pengakuan tersebut menjadi jaminan atas keunikan aroma, cita rasa, serta kualitas beras yang berasal dari kawasan vulkanik Lembah Raung, sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.

Baca Juga :  Bupati Bondowoso Lepas Fun Riding #3 Solor Stone Park: Dukung Revalidasi Ijen Geopark dan Geliat Ekonomi Cermee

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menjelaskan bahwa petani Bondowoso telah lama menerapkan sistem Tanam Benih Langsung (Tabela) yang terbukti mampu menekan biaya produksi, mempercepat masa tanam, dan meningkatkan hasil panen. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk mengimplementasikan metode baru PM-AAS secara lebih luas dengan pendampingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

“Pemerintah daerah bersama para penyuluh siap mengawal penerapan inovasi ini agar mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kesejahteraan petani,” katanya.

Meski memiliki potensi besar, Abdul Hamid Wahid menilai pengembangan sektor pertanian masih membutuhkan dukungan pemerintah pusat. Karena itu, ia mengajukan permohonan bantuan berupa pembangunan rumah produksi pengolahan hasil pertanian, penguatan hilirisasi produk, serta penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) pascapanen.

Menurutnya, dukungan tersebut akan meningkatkan efisiensi pengolahan hasil pertanian, mengurangi kehilangan hasil panen, sekaligus memberikan nilai tambah terhadap produk-produk unggulan Bondowoso.

“Kami siap bersinergi dengan seluruh kementerian untuk mewujudkan pertanian yang modern, produktif, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan dukungan pemerintah pusat, kami optimistis Bondowoso dapat menjadi contoh daerah yang berhasil mengintegrasikan tradisi pertanian dengan inovasi teknologi,” pungkasnya.(wan)