KILASJATIM.COM, Surabaya – Lebih dari 500 warga memadati halaman Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, untuk menyaksikan laga final Piala Dunia 2026 antara Spanyol melawan Argentina, Senin (20/7/2026) dini hari. Antusiasme yang tinggi membuat area nonton bareng (nobar) melebihi kapasitas yang diperkirakan panitia.
Warga dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Gresik sudah berdatangan sejak beberapa jam sebelum kick-off demi mendapatkan posisi terbaik di depan layar lebar. Sepanjang pertandingan, sorak sorai pendukung kedua tim menciptakan suasana meriah, namun tetap berlangsung tertib.
Tak hanya menyuguhkan pertandingan final, panitia juga menyiapkan berbagai hiburan seperti kuis interaktif, permainan berhadiah, doorprize, serta makanan dan minuman gratis bagi seluruh peserta.
Menariknya, seluruh konsumsi hingga hadiah yang dibagikan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar Kantor Diskominfo Jatim. Langkah ini diharapkan mampu memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal di tengah tingginya kunjungan masyarakat.
Kepala Diskominfo Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin mengatakan, nobar final menjadi agenda ketiga yang digelar setelah sebelumnya sukses menyelenggarakan nobar babak semifinal.
“Alhamdulillah antusiasmenya luar biasa. Setelah semifinal, sekarang final. Terima kasih kepada masyarakat yang hadir dan menikmati kebersamaan dalam momen Piala Dunia ini,” kata Sherlita.
Ia menilai nobar bukan sekadar menjadi tempat menyaksikan pertandingan bersama, tetapi juga sarana menggerakkan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan UMKM.
“Sayang kalau event empat tahunan ini hanya dinikmati di rumah. Kami sengaja melibatkan UMKM sekitar, mulai dari penyedia makanan hingga produk-produk lokal,” ujarnya.
Sherlita menyebut doorprize yang dibagikan juga berasal dari produk UMKM Jawa Timur, di antaranya sepatu buatan Mojokerto dan bola resmi Piala Dunia yang diproduksi di Madiun.
Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi kesempatan memperkenalkan kualitas produk lokal kepada masyarakat sekaligus memperluas pasar bagi pelaku usaha.
Di tengah membludaknya jumlah peserta, Sherlita mengaku sempat khawatir persediaan konsumsi tidak mencukupi. Namun, tingginya antusiasme warga justru menjadi bukti bahwa sepak bola mampu menjadi ruang kebersamaan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Yang kami pikirkan hanya konsumsi cukup. Selebihnya kami senang melihat masyarakat begitu antusias. Sepak bola kembali membuktikan mampu menyatukan berbagai kalangan dalam suasana yang penuh kegembiraan,” pungkasnya. (FRI/cit)
