Banyuwangi Ethno Carnival 2026 Angkat Tema Perang Bayu, Padukan Sejarah dan Fashion Bertaraf Internasional

oleh -336 Dilihat

KILASJATIM.COM, Banyuwangi – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 kembali memukau ribuan masyarakat dan wisatawan dengan pertunjukan budaya yang memadukan tradisi lokal dan konsep fashion carnival bertaraf internasional. Digelar di pusat Kota Banyuwangi pada Sabtu (18/7/2026), parade tahun ini mengusung tema “Perang Bayu”, yang mengangkat kisah perjuangan rakyat Blambangan melawan kolonialisme pada abad ke-18.

Parade diawali dengan penampilan beragam kesenian khas Banyuwangi, mulai dari Kuntulan Ewon, Tari Seblang, Gandrung, Jaranan Butho, hingga Barong. Atraksi kolosal tersebut menjadi pembuka sebelum ratusan peserta menampilkan parade kostum kreatif yang terinspirasi dari sejarah dan budaya lokal.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan perkembangan zaman tidak boleh menggerus nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur. Menurutnya, inovasi justru harus menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat nasional maupun dunia.

“Globalisasi tidak boleh menyingkirkan budaya, tradisi, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang. Justru kemajuan harus menjadi medium untuk terus melestarikan budaya kita,” ujar Ipuk.

Sekitar 100 talent mengenakan kostum spektakuler bertema Perang Bayu dengan sentuhan desain modern yang tetap berpijak pada unsur budaya Banyuwangi. Mereka berjalan menyusuri rute sepanjang sekitar dua kilometer, dimulai dari Taman Blambangan hingga Jalan Ahmad Yani, disambut antusias ribuan penonton yang memadati sepanjang jalur parade.

Tema Perang Bayu dipilih untuk mengenang perjuangan masyarakat Blambangan dalam mempertahankan wilayahnya dari kolonialisme pada abad ke-18. Melalui pendekatan seni dan fashion, sejarah tersebut diharapkan dapat lebih mudah dikenalkan kepada generasi muda sekaligus menjadi media edukasi budaya.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Hasan Basri, menilai Banyuwangi Ethno Carnival telah berkembang menjadi etalase budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Banyuwangi di tingkat internasional.

Baca Juga :  Dilengkapi BPJS, 11 Ribu Kader Posyandu Banyuwangi Tancap Gas Berburu Stunting

“BEC adalah etalase utama untuk menunjukkan keindahan budaya Banyuwangi di panggung dunia,” kata Hasan Basri.

Menurutnya, perkembangan industri kreatif harus tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal agar identitas daerah tetap terjaga di tengah arus globalisasi.

Selain menyajikan pertunjukan seni, BEC 2026 juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga sejarah, budaya, dan semangat perjuangan yang diwariskan para leluhur. Nilai-nilai tersebut diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk terus melestarikan warisan budaya Banyuwangi.

Ajang budaya tahunan ini juga dihadiri sejumlah pejabat dan tamu kehormatan, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani, perwakilan Kementerian Pariwisata, anggota DPR RI, pimpinan BUMN, serta sejumlah tokoh nasional.

Tak hanya itu, parade budaya tersebut turut disaksikan delegasi dari negara-negara anggota ASEAN, East Asia Summit (EAS), dan Pacific Islands Forum (PIF), yang semakin memperkuat posisi Banyuwangi Ethno Carnival sebagai salah satu festival budaya bertaraf internasional di Indonesia.

Melalui penyelenggaraan BEC 2026, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berharap budaya lokal tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat daerah, tetapi juga mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus memperkuat citra Banyuwangi sebagai destinasi budaya kelas dunia.(zul)