Lewat Gelaran JCFF, BI Yakin Bisa Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

oleh -22 Dilihat
Bank Indonesia perwakilan Jawa TImir dan Walikota Surabaya optimis event Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Secara resmi dibuka untuk umum di alun alun Surabaya, Jumat (17/7/2026) (kilasjatim.com/nova)

KILASJATIM. COM, Surabaya – Bank Indonesia optimis gelaran  Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 akan memjadi penopang pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Melalui festival yang melibatkan 50 UMKM binaan ini, Bank Indonesia memfasilitasi temu bisnis dengan pembeli internasional serta mendorong pemanfaatan Local Currency Transaction untuk mempermudah perdagangan global.

Bank Indonesia terus berkomitmen mendukung pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia, khususnya pada sektor perkebunan kopi, teh, cokelat, dan rempah-rempah.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Rifki Ismal, mengatakan perekonomian global masih dibayangi berbagai ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga energi, serta harga komoditas dunia. Kondisi tersebut turut memengaruhi kinerja ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menurutnya, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Pada semester I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,39 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa mencapai 5,79 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur  pada triwulan I 2026 mencapai 5,96 persen. Ini menunjukkan ekonomi  sangat prospektif dan menjadi salah satu motor pertumbuhan nasional,” ujar Rifki saat pembukaan JFCC 2026 di Surabaya, Jumat (17/7/2026).

Rifki menilai kinerja tersebut perlu terus diperkuat melalui pengembangan sektor unggulan, khususnya komoditas perkebunan seperti kopi, teh, kakao, dan rempah-rempah yang memiliki nilai tambah tinggi serta berorientasi ekspor.

Ia mengungkapkan Indonesia saat ini merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Produksi kopi nasional mencapai sekitar 780 ribu ton per tahun, dengan Jawa Timur menjadi sentra produksi terbesar di Pulau Jawa sebesar 53 ribu ton, sedangkan Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing sekitar 25 ribu ton per tahun.

Baca Juga :  Sri Untari: Dana Silpa Langkah Terbaik Tangani Covid-19 di Jatim

“Indonesia sudah masuk empat besar produsen kopi dunia. Ini menjadi potensi besar yang harus terus kita dorong agar semakin kompetitif di pasar global. Bank Indonesia melihat potensi tersebut, Bank Indonesia menjadikan Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat ekosistem komoditas unggulan berbasis ekspor di Pulau Jawa. Memasuki penyelenggaraan yang kelima, festival ini tidak hanya mempromosikan kopi, tetapi juga teh, kakao, dan rempah-rempah, ” jelasnya seraya menambahkan komoditas-komoditas ini ke depan akan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.

 JCFF 2026  yang diselenggarakan du Alun-alun kota Surabaya berlangsung selama tga hari, mulai Jumat (17/7/2026) hingga Minggu (19/7/2026)  tidak sekadar menjadi ajang promosi produk, tetapi juga mempertemukan pelaku UMKM, investor, pembeli, akademisi, dan komunitas dalam satu ekosistem bisnis.

 Sebanyak  50 UMKM binaan Bank Indonesia dan mitra turut berpartisipasi. Sebagian di antaranya telah berhasil mengekspor produk kopi, teh, maupun cokelat ke berbagai negara, seperti Jerman dan Malaysia.

“Festival ini tidak hanya menonjolkan komoditas, tetapi juga menggerakkan UMKM. Kami ingin semakin banyak pelaku usaha yang mampu menembus pasar internasionall dan  penguatan komoditas berorientasi ekspor menjadi salah satu strategi menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global, ” urainya.

Penyelenggaraan JCFF di Alun-Alun Surabaya dipilih untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Pada penyelenggaraan tahun lalu, festival tersebut berhasil menarik sekitar 130 ribu pengunjung dengan nilai transaksi mencapai Rp107 miliar hanya dalam tiga hari.

Seluruh transaksi selama penyelenggaraan JCFF juga dilakukan secara nontunai menggunakan QRIS sebagai bagian dari percepatan digitalisasi sistem pembayaran. Mengusung tema “From Local Taste to Global Horizon”, BI berharap festival ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk unggulan, tetapi juga memperkuat kolaborasi, mendorong hilirisasi, meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas akses pasar global, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya Jawa Timur.

Baca Juga :  Resmikan PLTS Atap 10.000 Watt di Ponpes Al-Amien Sumenep, Gubernur Khofifah: Jadi Referensi Penerapan EBT Wujudkan Net Zero Emission 2060

Sementra itu  Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyambut baik penyelenggaraan JCFF 2026 di Alun-Alun Surabaya. Menurutnya, festival tersebut bukan sekadar ajang pamer produk kopi, teh, cokelat, dan rempah-rempah, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan pelaku usaha, investor, akademisi, hingga komunitas dalam satu ekosistem pengembangan industri.

“Acara seperti ini tidak hanya sekadar menampilkan produknya, tetapi juga mempertemukan investor dengan UMKM, akademisi, dan komunitas. Ketika semua bertemu dalam satu tempat, peluang kerja sama dan investasi akan semakin terbuka,” ujarnya.

Ia berharap JFCC dapat terus diselenggarakan setiap tahun di Surabaya sebagai wadah promosi produk unggulan daerah sekaligus memperluas jejaring bisnis para pelaku UMKM. (nov)