Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi Rp 7.999 Triliun

oleh -52 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
Foto: dok/Istimewa)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia meningkat pada Mei 2026. Nilainya mencapai US$ 444,4 miliar atau sekitar Rp 7.999 triliun (kurs Rp 18.000 per dolar AS), naik 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 2 persen secara tahunan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan kenaikan ULN dipengaruhi oleh pertumbuhan utang sektor publik, yakni pemerintah dan bank sentral, di tengah kontraksi utang luar negeri swasta yang mulai melandai.

“Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7/2026).

Utang Pemerintah Naik

BI mencatat posisi utang luar negeri pemerintah mencapai US$ 217,3 miliar, atau tumbuh 3,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan pertumbuhan pada April 2026.

Menurut BI, kenaikan itu didorong oleh masuknya aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan masih terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Ramdan menegaskan pemerintah tetap berkomitmen memenuhi kewajiban pembayaran utang tepat waktu serta mengelola utang secara hati-hati.

“Pengelolaan utang dilakukan secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mendukung pembiayaan yang efisien,” ujarnya.

Sebagian besar utang pemerintah merupakan utang jangka panjang yang dimanfaatkan untuk membiayai sektor-sektor produktif. Alokasi terbesar digunakan untuk sektor kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen, disusul administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial (20,6 persen), pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,5 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).

Baca Juga :  JMSI Aceh Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Pidie Jaya

Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$ 195,9 miliar atau masih mengalami kontraksi 0,1 persen secara tahunan. Meski demikian, penurunannya lebih kecil dibandingkan April yang terkontraksi 0,5 persen.

Perbaikan terutama ditopang oleh kelompok lembaga keuangan yang kontraksinya menyempit menjadi 0,8 persen, dari sebelumnya 5 persen pada April.

Empat sektor yang memiliki porsi terbesar terhadap utang luar negeri swasta adalah industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan. Keempatnya menyumbang sekitar 79,9 persen dari total ULN swasta.

Meski utang luar negeri meningkat, BI memastikan kondisi ULN Indonesia masih berada dalam batas yang aman.

Hal itu tercermin dari rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 29,9 persen pada Mei 2026. Selain itu, sekitar 83,9 persen dari total utang merupakan utang jangka panjang, sehingga dinilai lebih aman terhadap risiko pembiayaan jangka pendek.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat dan didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” kata Ramdan. (cit)