Ada tiga momentum di luar hari besar keagamaan yang dirayakan warga Surabaya dengan meriah. Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI 17 Agustus, Hari Ulang Tahun Kota Surabaya 31 Mei, dan Hari Ulang Tahun Persebaya Surabaya 18 Juni. Bahkan HUT Persebaya disambut lebih meriah dan antusias dibandingkan HUT Kota Surabaya 31 Mei.
Jika HUT Kemerdekaan disambut dengan upacara bendera di lembaga pemerintahan-sekolah dan berbagai lomba di kampung-kampung, serta HUT Kota Surabaya dengan serangkaian festival maupun aksi sosial, maka HUT Persebaya dirayakan dengan konvoi, chant, dan nyala suar.
Tak ada yang berubah dalam perayaan hari jadi ke-99 tahun ini. Ribuan Bonek memadati jalan-jalan di Surabaya menunjukkan dukungan untuk klub yang berusia lebih tua daripada republik ini.
Sembilan puluh sembilan tahun Persebaya bukan hanya angka usia sebuah klub sepak bola.
Ini soal optimisme kendati Persebaya belum kembali menyandang gelar juara liga kasta tertinggi sejak 2004. Soal keyakinan meski putaran roda takdir Persebaya tidak selamanya di atas. Soal kesetiaan, terutama pada masa-masa kelam saat Persebaya hampir dimatikan. Tentang keikhlasan untuk senantiasa mendukung sebuah kebanggaan bahkan pada saat periode terpuruk.
Persebaya telah melewati beberapa zaman: masa kolonialisme, Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi. Setiap zaman menghadapi tantangannya sendiri.
Masa kolonialisme adalah masa konsolidasi dan penguatan eksistensi Persebaya. Tidak hanya eksistensi sebuah klub, tapi eksistensi perlawanan terhadap Belanda sekaligus eksistensi perjuangan sebuah bangsa. Bersama sejumlah klub lain, Persebaya memprakarsai berdirinya PSSI yang memang didesain sebagai alat perlawanan kaum bumiputera terhadap diskriminasi kolonial Belanda.
Dalam buku ”SIVB: Pasang Surut Sepak Bola Bumiputera di Surabaya 1926-1942” disebutkan, Kota Surabaya dan SIVB (Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond, nama awal Persebaya) pernah ditunjuk khusus oleh PSSI sebagai Commissarissen PSSI Jawa Timur yang bertugas mengawasi pengelolaan perkumpulan (bond-bond) sepak bola di Jawa Timur.
SIVB juga memprakarsai pertandingan amal untuk membantu korban bencana erupsi Gunung Merapi pada 1930. Seluruh pendapatan dari tiket masuk sebesar f 6.916,33 gulden disumbangkan untuk membantu korban bencana. Dari sini kita tahu, aktivitas dan aktivisme sosial Persebaya memang memiliki jejak panjang dalam sejarah, dan berlanjut hingga kini lewat beragam aksi sosial yang dilakukan Bonek dan Persebaya.
Saat Orde Lama dan Orde Baru, Persebaya berstatus amatir dan menjadi salah satu kekuatan kompetisi perserikatan selain Persija, Persib, PSMS, dan PSM. Tercatat Persebaya pernah empat kali menjuarai kompetisi amatir perserikatan pada 1951, 1952, 1978, dan 1988, serta dua kali menjuarai kompetisi profesional Liga Indonesia pada 1997 dan 2004.
Sejumlah pemain Persebaya menjadi tulang punggung tim nasional dari masa ke masa, mulai dari Abdul Kadir, Rusdi Bahalwan, Mustaqim, Bejo Sugiantoro, Yusuf Ekodono, Anang Maruf, Rizky Ridho, hingga Marselino Ferdinand. Kompetisi internal Persebaya adalah yang kompetisi klub yang paling rutin melahirkan pemain-pemain berbakat yang tak hanya bermain untuk Persebaya Surabaya, tapi juga direkrut klub-klub lain di Tanah Air.
Selama 99 tahun ini, setidaknya ada dua tantangan terbesar yang dihadapi Persebaya: eksistensi dan finansial. Eksistensi Persebaya nyaris tenggelam karena dualisme nama klub yang rumit, yang dipicu keputusan PSSI, sekitar sedekade silam.
Masa perjuangan mempertahankan dan menegakkan eksistensi ini menjadi masa paling heroik. Sejumlah pemain memilih setia kendati nasib Persebaya belum jelas. Tidak mengikuti kompetisi resmi, tim ini melakukan pertandingan persahabatan dari kota ke kota yang selalu dihadiri ribuan Bonek.
Beberapa kali jalanan di Surabaya dipenuhi ribuan Bonek yang berunjuk rasa menentang keputusan PSSI. Tembok di sudut-sudut kota dipenuhi mural dan grafiti bertema dukungan untuk Persebaya. Di kampung-kampung dan sejumlah titik di jalan-jalan protokol, spanduk hijau terbentang dan bendera Persebaya berkibar.
Hasil perjuangan itu berbuah kemenangan yang disyukuri banyak orang. Pada 2017, PSSI mengakui Persebaya kembali, dan memulai kompetisi di Liga 2.
Tantangan kedua adalah finansial. Setelah bertahun-tahun diasuh pemerintah daerah, Persebaya sempat kesulitan untuk mandiri. Prestasi bagus tidak diiringi dengan kinerja keuangan yang mulus. Maka beberapa kali juga Persebaya menunggak gaji pemain, sehingga sempat memunculkan protes pendukung mereka sendiri.
Sejak 2017, Persebaya mulai berubah arah. Di bawah kepemimpinan Azrul Ananda, Persebaya menjadi entitas profesional yang hidup dari sponsor, tiket penonton, penjualan merchandise, dan pembagian hak siar. Pelan-pelan kaki bisnis Persebaya menancap kokoh dan tak terdengar lagi cerita soal tunggakan gaji pemain.
Kini saatnya bagi Persebaya untuk bangkit menatap target selanjutnya: menjadi juara nasional pada 2027, saat berusia satu abad.
Ini tentu tidak mudah. Namun Persebaya sudah punya modal yang tangguh: internal yang solid, finansial berkelanjutan, dan loyalitas suporter yang kuat. Tiga modal besar ini seharusnya bisa dipadukan dan diolah menjadi kekuatan dalam kompetisi liga musim 2026-27.
Posisi empat besar dalam liga musim 2025-2026 menunjukkan bahwa Persebaya sudah berada di jalur yang benar. Bernardo Tavares sudah mulai menemukan strategi yang bisa dimatangkan untuk digunakan pada musim berikutnya.
Namun tentu saja, dia harus didukung oleh pemain-pemain berkualitas. Tercatat ada sepuluh pemain yang meninggalkan Persebaya musim depan, termasuk winger dan kapten Bruno Moreira. Dia termasuk jajaran penyumbang gol dan assist terbanyak Persebaya saat ini.
Bernardo Tavares harus diberikan kesempatan untuk memilih sendiri pemainnya yang bisa mengikuti skema taktiknya. Selain itu, manajemen Persebaya juga harus menyiapkan tim analisis yang solid yang bisa mengevaluasi pertandingan dan memberikan masukan kepada pelatih kepala, sekaligus menyediakan psikolog untuk memberikan pendampingan mental pada saat pemain menghadapi masalah psikis.
Siapkah Persebaya? Bukan itu yang perlu ditanyakan, karena saya kira kita semua tahu apa makna semboyan WANI yang selalu diteriakkan pada setiap laga Persebaya. (*)
