KILASJATIM.COM, Bondowoso – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat komitmen dalam mendukung percepatan swasembada gula nasional melalui kegiatan Panen Tebu Program Bongkar Ratoon Tahun 2026.
Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i menyampaikan bahwa program tersebut menjadi langkah nyata daerah dalam mendukung Program Strategis Nasional Pemenuhan Swasembada Gula 2026.
Menurutnya, swasembada gula menjadi bagian penting dalam mewujudkan kedaulatan pangan, mengurangi ketergantungan terhadap impor, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan kesejahteraan petani tebu.
“Melalui kegiatan ini, Kabupaten Bondowoso menunjukkan komitmen untuk mendukung program swasembada gula nasional. Sektor tebu memiliki peran besar dalam pembangunan pertanian dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar As’ad.
Untuk mengawal keberhasilan program hingga 2029, Pemerintah Kabupaten Bondowoso menyiapkan sejumlah langkah strategis, di antaranya memperkuat sinergi antarinstansi dalam pengembangan kawasan tebu rakyat, mengoptimalkan peran penyuluh pertanian, membangun kemitraan yang sehat antara petani dan industri gula, serta mendorong pemanfaatan teknologi guna meningkatkan produktivitas.
As’ad juga menegaskan, dengan potensi lahan yang subur dan sejarah panjang industri gula, Bondowoso memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pertumbuhan tebu modern di Jawa Timur. Namun, keberhasilan tersebut membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, industri, akademisi, hingga para petani tebu.
“Program ini harus menjadi gerakan bersama. Dengan kolaborasi yang kuat, kita optimistis Bondowoso mampu menjadi daerah percontohan pengembangan tebu rakyat modern,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati juga memberikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian, SGN, PG Prajekan, para penyuluh pertanian, serta seluruh petani tebu atas kerja keras dan kontribusinya dalam mendukung kemajuan sektor pergulaan.
Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso, Mulyadi, S.P., M.M., melaporkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan merupakan bagian dari implementasi Program Strategis Nasional sektor pergulaan tahun 2026 yang diarahkan untuk mendukung percepatan pencapaian swasembada gula nasional.
Menurut Mulyadi, produktivitas tebu rakyat sangat dipengaruhi oleh umur tanaman. Tanaman ratoon yang telah mengalami penurunan produktivitas perlu diremajakan melalui program bongkar ratoon agar hasil produksi kembali optimal.
“Berdasarkan berbagai hasil kajian teknis, kegiatan bongkar ratoon mampu meningkatkan produktivitas tebu antara 15 hingga 30 persen apabila diikuti penerapan budidaya yang baik, penggunaan varietas unggul, pemupukan berimbang, serta pengelolaan air yang memadai,” jelas Mulyadi.
Ia menambahkan, Kabupaten Bondowoso sebagai salah satu wilayah pengembangan tebu memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan bahan baku industri gula, khususnya bagi PG Prajekan. Karena itu, pada tahun 2026 Bondowoso mendapat target kegiatan bongkar ratoon dan perluasan areal tebu seluas 2.352 hektare.
Hingga 18 Juni 2026, berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan penyusunan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL), capaian program telah mencapai 797,789 hektare atau sekitar 33,92 persen dari target yang ditetapkan.
Meski menunjukkan perkembangan positif, lanjut Mulyadi, masih terdapat sejumlah tantangan di lapangan, mulai dari keterbatasan modal usaha petani, kebutuhan percepatan penyediaan benih varietas unggul, penyesuaian jadwal tanam dengan kondisi iklim dan ketersediaan air, hingga penguatan kelembagaan petani.
Untuk menjawab tantangan tersebut, DPKP Bondowoso terus melakukan berbagai langkah percepatan melalui pendampingan intensif oleh penyuluh pertanian, verifikasi dan validasi CPCL secara berkelanjutan bersama petugas Kementerian Pertanian, penguatan koordinasi dengan PG Prajekan, fasilitasi penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien, serta penguatan kelompok tani dan kemitraan usaha.
Mulyadi juga melaporkan perkembangan positif sektor Pergulaan di Bondowoso. Pada musim giling tahun 2026, PG prajekan menargetkan Angka 5,5 juta kuintal tebu dengan rendemen rata- rata mencapai 7,62 persen, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 7,01 persen.
Peningkatan rendemen tersebut menunjukkan adanya perbaikan kualitas bahan baku tebu, peningkatan penerapan teknologi budidaya, serta semakin baiknya koordinasi antara petani, penyuluh, pemerintah daerah, dan industri gula.
Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, Pemerintah Kabupaten Bondowoso optimistis target bongkar ratoon dan perluasan areal tebu tahun 2026 dapat tercapai sehingga mampu meningkatkan produktivitas tebu rakyat, memperkuat daya saing industri gula nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tebu di Kabupaten Bondowoso.(wan)

