Layanan Vaksin Tdap di  National Hospital , Perlindungan Kesehatan Untuk  Anak, Remaja, Dewasa, dan Ibu Hamil

oleh -138 Dilihat

KILASJATIM. COM, Surabaya  – Kasus pertusis atau batuk rejan kembali menjadi perhatian dunia kesehatan setelah terjadi peningkatan kasus di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebagai informasi, pertusis bukan sekadar batuk biasa, melainkan infeksi saluran pernapasan yang sangat menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada bayi.

Maka dari itu, dalam upaya pencegahan, vaksin Tdap (Tetanus, reduced Diphtheria, acellular Pertussis) memiliki peran penting sebagai vaksin booster untuk mempertahankan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis pada berbagai kelompok usia.

Didukung oleh tim dokter spesialis yang berpengalaman , National Hospital siap membantu mendapatkan perlindungan optimal terhadap tetanus, difteri, dan pertusis. Jangan menunggu hingga penyakit datang. Jadi lindungi diri dan orang-orang tercinta sejak dini dengan vaksinasi yang tepat di National Hospital.

Menurut dr. Achmad Y. Heryana, SpA dan dr. Hendera Henderi, SpOG dari National Hospital, vaksinasi Tdap kini menjadi bagian penting dari strategi perlindungan kesehatan sepanjang kehidupan (lifecourse immunization).

“Vaksin Tdap diberikan sebagai booster untuk memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis (batuk rejan). Materi edukasi pertusis menekankan bahwa terjadi peningkatan kasus pertusis global termasuk Indonesia pada tahun 2023, sehingga pencegahan melalui vaksinasi menjadi semakin penting,” ujar dr. Achmad Y. Heryana, SpA.

Pada anak, perlindungan terhadap pertusis dimulai melalui vaksin DTP yang diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, kemudian dilanjutkan dengan booster pada usia 18 bulan dan 5–7 tahun. Setelah memasuki usia remaja, perlindungan tersebut perlu diperkuat kembali dengan pemberian vaksin Tdap pada usia 10–18 tahun.

Sementara itu, pada orang dewasa dianjurkan menerima satu dosis Tdap sebagai booster dan mengulanginya setiap 10 tahun untuk mempertahankan kadar antibodi yang optimal. Sedangkan pada ibu hamil, Tdap diberikan pada setiap kehamilan. Pemberian booster ini penting karena kekebalan terhadap pertusis diketahui dapat menurun seiring waktu atau yang dikenal dengan istilah waning immunity.

Baca Juga :  Deteksi Dini Kanker Serviks, Puskesmas Sukosari Madiun Fasilitasi Pemeriksaan IVA Gratis

Meskipun sama-sama memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertussis, vaksi DTaP dan Tdap, memiliki perbedaan penting. DTaP mengandung antigen difteri dan pertussis dalam jumlah yang lebih tinggi sehingga digunakan untuk imunisasi primer pada bayi dan anak-anak guna membentuk respon imun yang kuat.

Berbeda dari DTaP, Tdap mengandung antigen difteri dan pertussis dalam jumlah yang lebih rendah (reduced antigen), sehingga lebih sesuai untuk digunakan sebagai booster pada pada remaja, dewasa, dan ibu hamil dengan risiko efek samping lokal yang lebih rendah. Dengan demikian, DTaP berperan membangun kekebalan awal, sedangkan Tdap berfungsi mempertahankan perlindungan jangka panjang.

Salah satu kelompok yang paling direkomendasikan menerima vaksin Tdap adalah ibu hamil. Berdasarkan rekomendasi terbaru dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), vaksin Tdap sebaiknya diberikan pada usia kehamilan 27–36 minggu pada setiap kehamilan. Tujuannya adalah agar antibodi yang terbentuk pada ibu dapat ditransfer melalui plasenta kepada janin.

Sehingga bayi memperoleh perlindungan pasif sejak lahir. Hal ini sangat penting karena bayi berusia kurang dari dua bulan belum dapat menerima vaksin pertusis primer, padahal kelompok usia ini memiliki risiko tertinggi mengalami komplikasi berat akibat infeksi pertussis.

“Pemberian Tdap pada ibu hamil sangat penting karena bayi usia kurang dari 2 bulan belum dapat menerima vaksin pertusis primer, padahal kelompok usia ini merupakan kelompok dengan risiko komplikasi tertinggi. Materi maternal immunization menjelaskan bahwa antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi ibu dapat menyeberangi plasenta dan memberikan perlindungan pasif pada bayi sejak lahir,” terang dr. Hendera Henderi, SpOG.

Dari sudut pandang pediatri, imunisasi maternal telah mengubah paradigma pencegahan penyakit infeksi pada bayi. Dokter anak kini tidak hanya berfokus pada jadwal imunisasi bayi, tetapi juga aktif mengedukasi calon ibu mengenai pentingnya vaksinasi selama kehamilan.

Baca Juga :  Layanan Epilepsi Center National Hospital, Para Epilepsy Survivor Dapat Penanganan Paripurna

Kolaborasi antara dokter anak dan dokter kandungan menjadi semakin penting karena perlindungan terhadap bayi dimulai bahkan sebelum bayi lahir. Pendekatan ini terbukti relevan mengingat data menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga bayi berusia kurang dari satu tahun yang terkena pertusis memerlukan perawatan di rumah sakit dan berisiko mengalami pneumonia, gagal napas, bahkan kematian. (nov)

No More Posts Available.

No more pages to load.