Penelitian Ungkap Intervensi Nutrisi Khusus Berpotensi Turunkan Stunting hingga 34,5 Persen

oleh -1174 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta – Malnutrisi pada anak masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Jawa Timur masih berada pada angka 14,7 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting karena dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Selain menghambat pertumbuhan fisik, masalah gizi seperti stunting, wasting, dan underweight juga meningkatkan risiko anak mengalami berbagai penyakit infeksi yang memerlukan biaya pengobatan tinggi serta berdampak pada kualitas hidup jangka panjang.

Para ahli menilai, anak yang terindikasi mengalami gangguan gizi perlu segera mendapatkan penanganan yang tepat melalui konsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mengevaluasi tumbuh kembang dan mengidentifikasi kemungkinan penyakit penyerta. Salah satu intervensi yang dinilai efektif adalah pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF).

Efektivitas intervensi tersebut terungkap dalam penelitian terbaru berjudul A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy yang dipresentasikan pada ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.

Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Muh. Akbar Bahar, menjelaskan penelitian tersebut mengevaluasi dampak kesehatan dan ekonomi dari pemberian PKMK kepada anak-anak Indonesia yang mengalami masalah gizi.

“Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5 persen, wasting sebesar 72,7 persen, dan underweight sebesar 51,7 persen. Jika diterapkan secara luas, dampaknya diperkirakan dapat mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak Indonesia,” ujar Akbar.

Penelitian itu juga menunjukkan manfaat yang lebih luas terhadap kesehatan anak. Perbaikan status gizi diperkirakan mampu menurunkan berbagai penyakit infeksi yang umum dialami anak dengan gizi kurang.

Baca Juga :  Moment "Kartini"  PLN  Berdayakan dan Apresiasi Perempuan di Berbagai Daerah Jawa Timur

Model penelitian memperkirakan penurunan kasus tuberkulosis (TB) hingga 47,2 persen dan pneumonia sebesar 44,7 persen. Angka tersebut setara dengan pencegahan sekitar 1,2 juta kasus TB dan satu juta kasus pneumonia. Selain itu, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare diproyeksikan berkurang masing-masing hingga 2,6 juta dan dua juta kasus.

Menurut Akbar, kebijakan nutrisi tidak seharusnya dipandang hanya sebagai program bantuan pangan semata, melainkan investasi kesehatan masyarakat yang memberikan manfaat kesehatan dan ekonomi secara bersamaan.

“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaat yang dihasilkan jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik,” katanya.

Dari sisi ekonomi, penelitian tersebut memperkirakan penghematan biaya pengobatan yang signifikan. Pengurangan kasus penyakit diprediksi dapat menghemat biaya hingga Rp2,46 triliun untuk penanganan TB, Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk ISPA, dan Rp3,38 triliun untuk diare.

Analisis ekonomi kesehatan dalam penelitian itu juga menunjukkan bahwa intervensi PKMK memberikan manfaat kesehatan yang besar dengan biaya relatif rendah, bahkan dinilai hingga tujuh kali lebih efektif dibandingkan ambang batas efektivitas biaya yang digunakan di Indonesia.

Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, menyambut positif temuan tersebut. Menurutnya, bukti ilmiah mengenai efektivitas intervensi nutrisi sangat penting untuk mendukung pengambilan kebijakan yang berbasis data.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya berpotensi mencegah memburuknya dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan biaya pengobatan di masa depan. Bukti seperti ini penting untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih berbasis data dan berorientasi pada manfaat jangka panjang bagi anak-anak Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga :  Kasud Covid-19 di Indonesia Alami Lonjakan Tiga Kali, Libur Nataru jadi Tantangan Pemerintah

Ia menegaskan bahwa penggunaan PKMK untuk anak stunting dan malnutrisi harus tetap sesuai regulasi yang berlaku serta didukung bukti klinis dan ekonomi yang kuat agar intervensi gizi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak Indonesia.

Ray juga menyoroti pentingnya inovasi nutrisi dalam mendukung upaya penanganan stunting. Menurutnya, kehadiran produk PKMK yang diproduksi di dalam negeri menjadi langkah positif dalam memperkuat ketahanan industri kesehatan nasional sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni, lanjutnya, menjadi pengingat penting bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh akses terhadap gizi yang optimal sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial dan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

“Pemenuhan gizi yang optimal merupakan fondasi untuk mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, sehat, dan mampu bersaing menyongsong Indonesia Emas. Oleh karena itu, hadirnya inovasi solusi nutrisi diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam pemenuhan gizi anak Indonesia untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 bebas stunting,” pungkasnya.(ara)