KILASJATIM.COM, Surabaya – Hubungan dagang Jawa Timur dan Sulawesi Utara menunjukkan tren menguat. Misi Dagang dan Investasi yang mempertemukan pelaku usaha kedua provinsi di Manado menghasilkan komitmen transaksi senilai Rp 1,887 triliun.
Nilai tersebut melonjak signifikan dibandingkan pelaksanaan misi dagang serupa pada 2022 yang mencatat transaksi Rp 158,98 miliar.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan total komitmen transaksi kali ini terdiri atas transaksi jual sebesar Rp 1,697 triliun dan transaksi beli Rp 189,99 miliar.
“Komitmen ini menunjukkan hubungan dagang antara Jawa Timur dan Sulawesi Utara saling menguntungkan dan saling melengkapi,” kata Emil dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).
Komoditas yang diperdagangkan dari Jawa Timur antara lain daging sapi dan ayam, pakan ikan dan udang, susu, rokok, jagung, produk batik, hingga mesin pertanian. Sementara Jawa Timur membeli berbagai komoditas unggulan Sulawesi Utara seperti ikan tuna, cakalang, tongkol, ikan layang, cengkeh, arang batok kelapa, serta produk kerajinan UMKM.
Menurut Emil, peningkatan nilai transaksi tidak terlepas dari hubungan bisnis yang terus berkembang sejak misi dagang pertama digelar pada 2022. Dalam kurun empat tahun terakhir, jejaring usaha antara pelaku bisnis kedua daerah dinilai semakin kuat.
Data perdagangan juga menunjukkan hubungan ekonomi kedua provinsi terus tumbuh. Sepanjang 2024, nilai perdagangan Jawa Timur dan Sulawesi Utara mencapai Rp 1,44 triliun. Dari angka tersebut, Jawa Timur mencatat surplus perdagangan sebesar Rp 581,72 miliar, dengan nilai penjualan mencapai Rp 1,01 triliun dan pembelian Rp 428,39 miliar.
Misi dagang kali ini diikuti 58 pelaku usaha dari Jawa Timur yang tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga mencari peluang pasokan komoditas dari Sulawesi Utara.
Emil menilai pola perdagangan yang saling menguntungkan menjadi fondasi penting untuk memperkuat ekonomi daerah. Apalagi Sulawesi Utara memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang kawasan timur Indonesia menuju pasar Pasifik melalui Pelabuhan Bitung.
Di tengah penguatan kerja sama antardaerah, kinerja ekonomi Jawa Timur juga menjadi modal untuk memperluas pasar. Pada triwulan I 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen.
Sementara itu, neraca perdagangan Jawa Timur mencatat surplus Rp 210,1 triliun sepanjang 2025 dan kembali surplus Rp 54,25 triliun pada triwulan I 2026. Capaian tersebut mencerminkan daya saing produk Jawa Timur yang masih kuat di pasar domestik maupun ekspor.
Sejak 2019 hingga 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menggelar 51 misi dagang dalam negeri dengan total komitmen transaksi mencapai Rp 38,32 triliun. Adapun tujuh misi dagang internasional yang dilaksanakan sejak 2022 hingga April 2026 menghasilkan transaksi senilai Rp 21,42 triliun.
Wakil Gubernur Sulawesi Utara J. Victor Mailangkay menilai forum bisnis tersebut menjadi bukti kuatnya komitmen kedua daerah dalam memperkuat perdagangan domestik dan membuka peluang investasi baru.
Menurutnya, kehadiran puluhan pelaku usaha dari Jawa Timur memberikan ruang bagi dunia usaha kedua daerah untuk membangun kemitraan yang lebih luas sekaligus meningkatkan transaksi perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Lonjakan nilai transaksi hingga hampir Rp 1,9 triliun dalam misi dagang kali ini menjadi sinyal bahwa kerja sama ekonomi antardaerah semakin berkembang, sekaligus membuka peluang pasar baru bagi pelaku usaha dan UMKM di Jawa Timur maupun Sulawesi Utara.(cit)




