KILASJATIM.COM, Bondowoso – Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso menetapkan Dr. KH. Moh. Syaeful Bahar, M.Si sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Bondowoso periode 2026-2031. Bersama KH. Abdul Qodir Syam yang terpilih sebagai Rais Syuriah, kepengurusan baru ini diharapkan mampu membawa NU semakin berdaya dan hadir menjawab kebutuhan masyarakat.
Sekretaris Jenderal PWNU Jawa Timur, KH. Muhammad Faqih, menjelaskan bahwa mekanisme pemilihan kepengurusan NU selalu mengedepankan musyawarah mufakat. Namun apabila tidak tercapai kesepakatan, maka proses dilanjutkan melalui pemilihan sesuai tata tertib organisasi.
“Dalam pemilihan Tanfidziyah maupun Syuriah diutamakan dengan musyawarah mufakat. Jika tidak bisa, maka harus melalui pemilihan. Dalam pemilihan itu ada dua tahapan, yakni pemilihan calon dan pemilihan ketua,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam tata tertib Konfercab, calon ketua harus memperoleh dukungan minimal 30 persen suara dari total MWCNU yang hadir. Pada Konfercab Bondowoso terdapat 22 MWCNU yang memiliki hak suara sehingga syarat minimal dukungan adalah tujuh suara.
“Ternyata dalam forum hanya satu orang yang mendapatkan dukungan lebih dari tujuh suara dan kemudian ditetapkan oleh forum bersama Rais Syuriah. Selanjutnya calon tersebut ditetapkan menjadi Ketua PCNU Bondowoso atas nama H. Muhammad Syaeful Bahar,” jelasnya.
KH. Muhammad Faqih juga menyampaikan pesan PWNU Jawa Timur yang meneruskan arahan PBNU terkait empat bidang prioritas yang harus menjadi perhatian PCNU di seluruh Indonesia, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan.
“Ada empat garapan yang harus dilakukan oleh PCNU. Pertama pendidikan, kedua kesehatan, ketiga ekonomi, dan terakhir keagamaan. NU tidak hanya berbicara tentang keagamaan ataupun mengaji semata. Menghadapi abad kedua NU, organisasi ini harus semakin bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, hasil survei yang dilakukan pada tahun 2023 menunjukkan bahwa empat bidang tersebut merupakan kebutuhan utama masyarakat yang harus mendapat perhatian serius dari Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, Ketua PCNU Bondowoso terpilih, Dr. KH. Moh. Syaeful Bahar, M.Si menegaskan komitmennya untuk melanjutkan tradisi-tradisi baik yang telah diwariskan para pendahulu, sekaligus membuka ruang bagi inovasi dan pembaruan yang membawa kemaslahatan lebih besar.
“Dalam tradisi NU, kita akan melanjutkan tradisi baik yang sudah ada dan tidak akan menolak sesuatu yang lebih baik yang datang setelahnya. Artinya kami akan terus berusaha mengembangkan seluruh potensi yang kita miliki,” katanya.
Ia menyebut, kepengurusan baru akan mengembangkan program-program berbasis pendekatan saintifik dengan memetakan potensi organisasi sekaligus membaca persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Kami akan memulai dengan membaca potensi yang dimiliki NU seperti apa, lalu persoalan yang ada di masyarakat seperti apa. Yang pasti jam’iyah ini harus berorientasi pelayanan kepada jamaah. NU harus melayani dan memfasilitasi kebutuhan yang benar-benar ada di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurut Syaeful Bahar, selama ini NU telah banyak memberikan pelayanan di bidang ritual dan spiritual. Namun ke depan, pelayanan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat harus semakin diperkuat.
“Hari ini NU lebih dominan dalam pelayanan ritual dan spiritual. Ke depan kami akan belajar dan berikhtiar memperbaiki pelayanan di bidang kesehatan dan pendidikan agar lebih masif. Problem-problem itu sebenarnya bisa kita selesaikan karena kita memiliki sumber daya manusia yang sangat melimpah,” ungkapnya.
Ia optimistis, jika seluruh potensi kader dan warga nahdliyin dapat diorganisasi dengan baik, maka NU akan menjadi kekuatan besar yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat Bondowoso.
“Yang harus kita lakukan adalah mengorganisir seluruh potensi itu menjadi sebuah kekuatan NU yang lebih besar untuk masa depan,” pungkasnya.(wan)




