TPS dan TTL Gandeng ALFI Jatim Perkuat Sinergi Logistik dan Digitalisasi Pelabuhan

oleh -644 Dilihat

KILASJATIM.COM – Upaya memperkuat sistem operasional kepelabuhanan yang terintegrasi, efisien, dan adaptif terus dilakukan oleh PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dan PT Terminal Teluk Lamong (TTL) bersama Subholding Pelindo Terminal Petikemas (SPTP). Salah satunya melalui forum Coffee Morning bersama Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (DPW ALFI/ILFA) Jawa Timur di Arcadia Hotel Surabaya, Rabu (20/5).

Forum tersebut menjadi wadah komunikasi dan kolaborasi lintas sektor untuk menyerap berbagai masukan dari pelaku logistik sekaligus memperkuat sinergi dalam menghadapi dinamika industri kepelabuhanan yang terus berkembang.

Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, mengatakan perencanaan strategis dalam pengelolaan bisnis berkelanjutan membutuhkan kolaborasi seluruh ekosistem pelabuhan. Menurutnya, peningkatan kualitas layanan tidak dapat dilakukan secara parsial oleh masing-masing pihak.

“Pelabuhan merupakan ekosistem yang melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, peningkatan layanan membutuhkan kolaborasi dan komunikasi yang kuat antara operator, pengguna jasa, pelaku logistik, perusahaan pelayaran, serta stakeholder terkait lainnya,” ujar Erika.

Ia menjelaskan, salah satu strategi penting dalam meningkatkan level of service dan level of safety adalah melalui pendekatan Voice of Customers. Langkah tersebut dilakukan dengan mendengarkan pengalaman pengguna jasa, memahami tantangan di lapangan, hingga menyerap masukan terhadap berbagai upaya perbaikan yang telah dilakukan.

Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, isu kepadatan aktivitas terminal petikemas dan masa penumpukan kontainer menjadi salah satu perhatian utama. Hal itu seiring meningkatnya volume arus barang di kawasan pelabuhan.

Menurut Erika, tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kapasitas infrastruktur fisik, tetapi juga dipengaruhi efektivitas sistem pelayanan, kecepatan administrasi, sinkronisasi data, hingga kedisiplinan proses operasional di lapangan.

“Tantangan kepadatan juga dipengaruhi oleh efektivitas sistem pelayanan, kecepatan administrasi, sinkronisasi data, hingga kedisiplinan proses operasional di lapangan. Kondisi ini menuntut pola operasional yang lebih responsif serta penguatan koordinasi lintas entitas dan instansi,” tambahnya.

Baca Juga :  Mas Dhito Tegas Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD

Selain membahas aspek operasional, forum tersebut juga mendorong transformasi budaya kerja di lingkungan pelabuhan agar lebih adaptif, responsif terhadap perubahan, dan berorientasi pada pelayanan prima atau service excellence. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing logistik nasional di tingkat global.

Dari sisi pengguna jasa, DPW ALFI/ILFA Jawa Timur turut menyampaikan sejumlah masukan strategis terkait kondisi operasional di lapangan. Beberapa poin yang menjadi fokus tindak lanjut bersama meliputi standardisasi layanan bongkar muat, optimalisasi lapangan penumpukan untuk mencegah bottleneck, serta penguatan konsistensi sistem digital guna memangkas birokrasi dan waktu tunggu (dwelling time).

Melalui forum tersebut, Pelindo dan ALFI Jatim sepakat untuk terus melakukan evaluasi berkala demi mendorong transformasi operasional pelabuhan yang lebih kompetitif, efisien, dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari komitmen peningkatan layanan, pengelola terminal juga akan terus melakukan perbaikan proses operasional, penguatan koordinasi layanan, optimalisasi fasilitas pelabuhan, serta peningkatan pemanfaatan sistem digital agar pelayanan menjadi lebih cepat, transparan, dan efisien.

Sementara itu, DPW ALFI/ILFA Jawa Timur bersama para pengguna jasa menyatakan komitmennya untuk mendukung kelancaran operasional pelabuhan melalui peningkatan kepatuhan terhadap prosedur layanan, optimalisasi perencanaan logistik, percepatan administrasi, serta penguatan komunikasi dan koordinasi dengan operator terminal maupun instansi terkait. (BIJ)

No More Posts Available.

No more pages to load.