Ini Kisah Dokter Muda Unusa, dari Doa Ibu, Anak Pedagang Kecil, Hingga Mimpi Besar

oleh -345 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Di balik pelantikan 16 dokter baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, tersimpan kisah perjuangan penuh haru tentang anak pedagang kecil, putri tenaga kesehatan desa, hingga generasi keluarga dokter yang sama-sama menembus kerasnya pendidikan kedokteran demi mengabdi kepada masyarakat.

Salah satunya adalah Benta Malika El Ghameela, dokter pertama di keluarga pedagang asal Madura. Setiap menghadapi ujian, ibunya selalu membaca Surat Yasin dari rumah setelah menerima pesan singkat berisi nama penguji dan jadwal ujian dari sang anak. “Kalau saya sudah chat, ‘Ma, sudah selesai,’ baru Mama berhenti,” ujar Benta mengenang ritual doa sang ibu yang ia sebut sebagai “jimat”.

Perjalanan Benta menjadi dokter tidak mudah. Saat pandemi Covid-19, usaha fotokopi keluarganya nyaris berhenti total hingga orang tuanya banting setir berjualan pakaian demi membiayai kuliahnya. “Kalau orang tua saya tidak pernah mengeluh soal biaya, saya juga tidak boleh mengeluh soal pendidikan,” katanya lagi.

Kisah lain datang dari Via Dwi Alfiana, perempuan asal Desa Sengkol, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Putri seorang perawat dan bidan itu tumbuh dengan mimpi mengabdi di daerah asalnya yang masih membutuhkan akses layanan kesehatan. “Saya ingin memberikan pelayanan kesehatan yang baik, meningkatkan edukasi masyarakat, serta membantu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pencegahan penyakit,” terang Via.

Selama menempuh pendidikan kedokteran di Surabaya, Via harus berjuang jauh dari keluarga dan menghadapi tekanan akademik yang berat. Namun dukungan keluarga membuatnya bertahan hingga resmi disumpah sebagai dokter.

Sementara itu, Atika Salsabillah Zein menjalani perjalanan berbeda sebagai anak dari keluarga dokter. Putri dr. H. Moh. Zainuddin, Sp.Rad., itu mengaku tumbuh di lingkungan yang suportif tanpa tekanan akademik berlebihan. “Jangan berkecil hati kalau lulusnya lebih lama. Pada akhirnya tujuan yang ditempuh tetap sama, yaitu menjadi dokter,” cerita Atika. Atika kini bercita-cita melanjutkan pendidikan spesialis dermatologi dan membangun produk skincare berbasis ilmu kedokteran.

Baca Juga :  Musim Hujan, Toleh Yuk 5 Destinasi Seru di Kota Malang Ini

Tiga kisah para dokter muda Unusa ini, menjadi potret bahwa perjuangan menjadi dokter lahir dari latar belakang berbeda, namun disatukan oleh ketekunan, dukungan keluarga, dan keinginan untuk mengabdi kepada masyarakat.(tok)