KILASJATIM.COM, Surabaya — Menandai delapan tahun perjalanannya, BPC Perhumas Surabaya Raya menggelar syukuran secara sederhana dan suasana hangat penuh kolaborasi pada Rabu (13/5) .
Acara yang berlangsung di Kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya ini diisi dengan talkshow bertajuk “Media, Data, dan Krisis: Menyusun Narasi Krisis di Era Digital, Apa yang Media Harapkan dari PR?” yang menghadirkan narasumber dari media nasional, media lokal, serta industri teknologi monitoring media.
Mengusung tema “8ersinergi, 8erkarya, dan 8erdampak,” kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus refleksi bersama bagi para praktisi humas dari berbagai sektor, mulai dari pemerintah, korporasi, perguruan tinggi, komunitas, hingga media.
Talkshow ini menghadirkan empat narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Malik Ibrahim dari LKBN ANTARA memaparkan bagaimana media nasional membingkai sebuah peristiwa menjadi krisis publik dan apa yang sesungguhnya diharapkan media dari para praktisi PR dalam situasi genting.
Sementara itu, Aqsath Rasyid Naradipha, CEO NoLimit Indonesia, mengulas bagaimana data dan teknologi media monitoring kini menjadi instrumen vital dalam mendeteksi sinyal krisis sejak dini.
Perspektif media lokal turut disampaikan oleh Tri Mulyono dari Tribun Network Jatim serta Saptini Darmaningrum dari Beritajatim.com yang menyoroti dinamika lapangan, tekanan kecepatan pemberitaan, serta kedekatan media lokal dengan ekosistem daerah yang turut memengaruhi arah narasi krisis di Jawa Timur.
Sejak pertama kali dilantik pada 5 Mei 2018, BPC Perhumas Surabaya Raya terus tumbuh sebagai ruang kolaborasi dan pertukaran gagasan bagi insan komunikasi di Surabaya, Jawa Timur, hingga tingkat nasional.
Sebagai bagian dari Perhumas Indonesia, BPC Perhumas Surabaya Raya turut membawa semangat organisasi dalam mendorong kampanye “Indonesia Bicara Baik” — sebuah ajakan bersama untuk membangun budaya komunikasi yang positif, beretika, sehat, bijak, dan penuh empati di ruang publik.
Di tengah era digital yang bergerak sangat cepat, peran humas semakin penting dalam menjaga kepercayaan publik dan menghadirkan komunikasi yang akurat, menenangkan, serta bertanggung jawab. Tema “8ersinergi, 8erkarya, dan 8erdampak” menjadi pengingat bahwa kekuatan humas lahir dari kolaborasi yang terus dirawat dan karya yang mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Ketua BPC Perhumas Surabaya Raya, Indriani Siswati, menyampaikan bahwa perjalanan delapan tahun ini tidak lepas dari dukungan dan kolaborasi berbagai pihak yang selama ini tumbuh bersama dalam ekosistem komunikasi yang sehat dan produktif.
“Delapan tahun ini adalah perjalanan yang dibangun bersama. Kami percaya komunikasi bukan sekadar membangun reputasi, tetapi juga membangun kepercayaan, memperkuat hubungan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kami ingin terus merawat sinergi yang telah terbangun dan meluaskan dampaknya,” ujarnya.
Momentum HUT ke-8 ini juga menjadi pengingat bahwa komunikasi yang baik bukan hanya tentang menyampaikan informasi dengan cepat, tetapi juga menghadirkan narasi yang empatik, bertanggung jawab, akurat, dan mampu menumbuhkan optimisme di tengah masyarakat.
Melalui semangat “8ersinergi, 8erkarya, dan 8erdampak,” BPC Perhumas Surabaya Raya menegaskan komitmennya untuk terus tumbuh sebagai organisasi yang adaptif, kolaboratif, inklusif, dan relevan bagi perkembangan dunia kehumasan di Indonesia. BPC Perhumas Surabaya Raya juga ingin terus menjadi titik temu komunikasi yang mempererat sinergi antarinstansi, mendukung peningkatan kapasitas humas di era digital, sekaligus menggaungkan semangat “Indonesia Bicara Baik” bersama seluruh insan komunikasi di Jawa Timur dan Tanah Air. (nov)




