Instalasi Karantina Terpadu Jatim Diresmikan, Dwelling Time Dipangkas

oleh -740 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
Instalasi Karantina Terpadu Jawa Timur resmi diresmikan dan beroperasi yang diharapkan bisa Percepat Logistik dan Ekspor Jawa Timur serta Dwelling Time
Foto: Humas Pemprov Jatim

KILASJATIM.COM, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan Instalasi Karantina Terpadu Jawa Timur di kawasan Puspa Agro Jemundo, Sidoarjo. Fasilitas yang diklaim pertama di Indonesia itu diproyeksikan mempercepat arus logistik sekaligus memperkuat perdagangan ekspor-impor Jawa Timur.

Peresmian dilakukan bersama Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding melalui penandatanganan prasasti dan penekanan tombol sirine sebagai tanda mulai beroperasinya fasilitas tersebut.

Instalasi Karantina Terpadu menjadi bagian dari pengembangan kawasan JATIM HUB atau Nusantara Integrated Trade & Quarantine Gateway, yang mengintegrasikan layanan karantina, logistik, dan perdagangan dalam satu kawasan terpadu.

Khofifah mengatakan, keberadaan fasilitas ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat efisiensi distribusi barang serta pengawasan lalu lintas komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan.

“Ini menjadi yang pertama di Indonesia dan sangat penting untuk mendukung efisiensi logistik serta perdagangan,” kata Khofifah dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, Jawa Timur memiliki posisi penting sebagai pusat logistik nasional dan penghubung perdagangan Indonesia bagian barat dan timur. Karena itu, proses distribusi barang harus ditopang sistem karantina yang cepat, modern, dan terintegrasi.

“Kecepatan layanan saat ini menjadi bagian dari daya saing perdagangan global,” ujarnya.

Khofifah menjelaskan, kawasan JATIM HUB dikembangkan di lahan seluas 50 hektare di koridor utama perdagangan Jawa Timur. Kawasan ini dilengkapi fasilitas pergudangan, cold storage, laboratorium, kawasan distribusi, hingga tempat penimbunan sementara.

Sistem layanan di dalamnya juga terintegrasi dengan joint inspection antara karantina dan Bea Cukai guna memangkas proses pemeriksaan barang dan menurunkan dwelling time.

Selain memperkuat sektor logistik, kawasan ini juga diharapkan membuka akses pasar ekspor lebih luas bagi produk koperasi, usaha kecil menengah (UKM), dan industri kecil menengah (IKM).

Baca Juga :  Terdengar Ledakan, Toko Sepeda Listrik di Raya Tandes Lor Surabaya Terbakar

“Kita ingin produk daerah, termasuk dari koperasi dan UKM, bisa bersaing di pasar global,” tegasnya.

Khofifah menyebut potensi lalu lintas logistik di Jawa Timur terus meningkat setiap tahun. Pergerakan komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan tercatat mencapai lebih dari 350 ribu frekuensi per tahun.

Sementara potensi lalu lintas kontainer ekspor-impor yang masuk instalasi karantina diperkirakan mencapai 911.360 TEUs per tahun, terdiri atas 811.728 TEUs impor dan 99.632 TEUs ekspor.

Di sisi lain, Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding mengatakan integrasi layanan karantina dalam satu kawasan akan membuat proses pengawasan lebih efektif dan efisien.

“Barang yang diuji dan dikarantina bisa lebih mudah, tidak berbelit, dan mengurangi dwelling time,” ujar Karding.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pelepasan sejumlah komoditas ekspor, di antaranya frozen yellowfin tuna tujuan Amerika Serikat dan pakan ternak tujuan Timor Leste. Selain itu, dilepas pula pengiriman benih timun dari Jawa Timur menuju Lombok Barat.(cit)