KILASJATIM.COM, Surabaya – Cabang olahraga gulat kembali ditegaskan sebagai salah satu andalan Jawa Timur dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Ketua KONI Jawa Timur, M. Nabil, menyebut sejumlah pelatih dan atlet gulat Jatim secara konsisten menembus pemusatan latihan nasional (Pelatnas) untuk memperkuat Indonesia di ajang internasional.
“Program Jatim adalah mempersiapkan atlet mencetak prestasi dunia dan terus memberikan kontribusi bagi Indonesia,” ujar Nabil.
Prestasi gulat Jawa Timur dalam beberapa edisi PON terbilang gemilang. Pada PON XX Papua, Jatim keluar sebagai juara umum dengan raihan 7 emas, 7 perak, dan 2 perunggu. Sementara pada PON XXI Aceh-Medan, Jatim menempati posisi kedua dengan 5 emas, 4 perak, dan 5 perunggu. Adapun di ajang PON Beladiri Kudus 2025, gulat Jatim kembali menjadi juara umum dengan torehan 6 emas, 3 perak, dan 1 perunggu.
Menurut Nabil, salah satu kunci keberhasilan tersebut adalah soliditas dan kekompakan pengurus. Ia berharap kepengurusan baru mampu mengembalikan dominasi dengan merebut gelar juara umum pada PON NTB-NTT XXII 2028.
Untuk mencapai target tersebut, Nabil mendorong PGSI Jawa Timur memperbanyak kejuaraan sebagai bagian dari pembinaan atlet di daerah. “Idealnya dalam satu tahun harus ada empat sampai lima kejuaraan di Jatim,” katanya.
Sekretaris Jenderal PP PGSI, Gusti Randa, menilai pola pembinaan gulat di Jawa Timur sudah berjalan baik dan terbukti melalui prestasi para atlet. Ia juga mengapresiasi keberadaan Komisi Disiplin di tubuh PGSI Jatim, yang menurutnya belum dimiliki di tingkat pusat.
Selain itu, Gusti menyoroti pentingnya regenerasi atlet. Ia menilai peraih medali di ajang seperti SEA Games dan PON masih didominasi atlet lama. “Saya mendukung penuh jika Jatim memperbanyak kejuaraan,” ujarnya.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jatim, M. Hadi Wawan Guntoro, menegaskan pihaknya akan terus bersinergi dengan pengurus cabang olahraga untuk memperkuat pembinaan dan pengembangan atlet. Salah satu program yang akan digelar tahun ini adalah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) sebagai bagian dari pembinaan usia dini.
Sementara itu, Ketua PGSI Jawa Timur, Ficky Erastho, mengakui persaingan di cabang gulat kini semakin ketat. Ia menekankan pentingnya soliditas pengurus dalam menjalankan pembinaan agar prestasi tetap terjaga.
“Persaingan di gulat sangat ketat, margin peraih emas dan yang gagal meraih medali sangat tipis. Agar atlet Jatim tetap berprestasi maka pengurus harus solid,” ujarnya.
Ficky juga menilai potensi atlet muda gulat Jawa Timur sangat menjanjikan. “Selama ini kita tidak kekurangan potensi, banyak atlet muda yang mulai bisa bersaing dengan atlet puslatda,” pungkasnya.(den)




