Utang Luar Negeri Indonesia Capai US$ 437,9 Miliar, Tumbuh 2,5 Persen

oleh -614 Dilihat
Oleh
Redaksi
Editor
Foto: dok/Istimewa)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali meningkat. Hingga Februari 2026, nilainya mencapai US$ 437,9 miliar atau sekitar Rp 7.488 triliun (kurs Rp 17.100), naik dari posisi Januari sebesar US$ 434,9 miliar.

Bank Indonesia (BI) mencatat, secara tahunan ULN tumbuh 2,5% (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Januari yang sebesar 1,7%.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan kenaikan ini terutama didorong oleh sektor publik, khususnya bank sentral, seiring masuknya aliran modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Utang luar negeri Indonesia pada Februari 2026 meningkat menjadi US$ 437,9 miliar, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/4/2026).

Sementara itu, ULN sektor swasta justru mengalami penurunan.

Dari sisi pemerintah, posisi ULN tercatat sebesar US$ 215,9 miliar atau tumbuh 5,5% (yoy). Kenaikan ini dipengaruhi dinamika pengelolaan surat utang.

Berdasarkan penggunaannya, ULN pemerintah banyak dialokasikan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, administrasi pemerintahan, pendidikan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan.

BI mencatat hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,98%. Kenaikan ULN bank sentral juga dipengaruhi meningkatnya kepemilikan investor asing pada instrumen moneter, sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

“Kenaikan utang luar negeri terutama didorong sektor publik dan aliran modal asing ke instrumen moneter,” ungkapnya.

Di sisi lain, ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 193,7 miliar atau turun 0,7% (yoy). Penurunan terjadi baik pada lembaga keuangan maupun perusahaan non-keuangan.

Secara sektoral, ULN swasta masih didominasi industri pengolahan, jasa keuangan, energi, serta pertambangan, dengan kontribusi lebih dari 80% terhadap total utang swasta. Sekitar 76% di antaranya juga merupakan utang jangka panjang.

Baca Juga :  KTT AIS Forum 2023 Pertajam Strategi Global Atasi Persoalan Perubahan Iklim

Meski mengalami kenaikan, BI menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 29,8%, serta dominasi utang jangka panjang yang mencapai 84,9% dari total ULN.

BI bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri, sekaligus memastikan pemanfaatannya tetap produktif dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi.

ULN diharapkan tetap menjadi salah satu sumber pembiayaan pembangunan, dengan risiko yang terkelola untuk menjaga pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.(cit)

No More Posts Available.

No more pages to load.