Mahasiswa S2 Manajemen UM Dampingi Kampung Lemon, Dorong Kemandirian Ekonomi Lokal

oleh -764 Dilihat
Oleh
Sekar
Reporter
Foto: Sekar/kilasjatim

KILASJATIM.COM, Malang – Kampung Lemon di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, mulai menunjukkan geliat transformasi sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Perubahan ini tidak lepas dari program pendampingan intensif yang dilakukan oleh mahasiswa Magister Manajemen Universitas Negeri Malang (UM) dalam upaya meningkatkan kapasitas manajerial dan kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Program tersebut diinisiasi oleh dua mahasiswa, Siti Ulfatul Faizah dan Tisa Reta Vianda, di bawah bimbingan Prof. Dr. Agung Winarno, M.M., dan Prof. Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd., M.M.

Pendampingan difokuskan pada penyelesaian berbagai kendala yang selama ini dihadapi pelaku UMKM, seperti standardisasi proses produksi hingga keterbatasan akses pemasaran digital.

Prof. Agung Winarno, selaku Pembimbing menegaskan bahwa setiap program yang dijalankan telah melalui proses identifikasi masalah secara mendalam di lapangan.

“Pendekatan berbasis kebutuhan riil masyarakat menjadi kunci dalam mendorong pengembangan desa wisata dan produk unggulan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Wening Patmi Rahayu menyoroti pentingnya inovasi dan kreativitas dalam menghadapi tantangan bisnis modern. “Produk lokal tidak hanya perlu diproduksi, tetapi juga harus memiliki nilai tambah serta legalitas usaha yang kuat agar dapat menembus pasar yang lebih kompetitif,” tambahnya.

Kampung Lemon sendiri memiliki potensi besar melalui produk unggulan berupa serbuk lemon. Namun, keterbatasan jaringan distribusi dan strategi pemasaran sebelumnya membuat produk tersebut sulit menjangkau pasar di luar desa.

Melalui pendampingan ini, masyarakat mulai dibekali kemampuan untuk memperluas akses pemasaran serta meningkatkan kualitas produk.

Pengurus Kampung Lemon, Nur Janah menyampaikan harapannya agar program ini mampu menghadirkan inovasi baru yang dapat mendorong perkembangan produk lokal. Hal serupa juga disampaikan oleh Tisa dan Siti yang menilai bahwa serbuk lemon memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar gaya hidup sehat, termasuk ke kafe-kafe di perkotaan.

Baca Juga :  Khofifah Bangun JLKT dan Resmikan Air Bersih di Bromo

Selain serbuk lemon, pendampingan juga menyasar pengembangan produk turunan berupa lemon cair “Lempah”. Produk ini dirancang memiliki daya simpan lebih lama dengan kemasan yang lebih menarik, sehingga siap diproduksi secara berkelanjutan dan memberikan nilai ekonomi tambahan bagi warga.

Kepala Desa Sumberdem, Purwati, mengapresiasi kontribusi mahasiswa UM dalam mendampingi masyarakat. Ia menyebutkan bahwa penguatan sumber daya manusia dan manajemen pengolahan produk menjadi prioritas utama dalam mewujudkan Kampung Lemon sebagai motor penggerak ekonomi desa.

“Program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan penjualan produk, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Melalui pelatihan, pengembangan UMKM, dan optimalisasi potensi lokal, warga didorong untuk menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Pendampingan Desa Kampung Lemon juga menjadi bagian dari upaya mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)) 8 dan 17 , khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Dengan kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa, dosen, dan pemerintah desa, Kampung Lemon kini optimistis menatap masa depan sebagai destinasi eduwisata mandiri yang mampu memberikan kesejahteraan nyata bagi masyarakatnya.(KAR)

No More Posts Available.

No more pages to load.