Gubernur Khofifah Terima Tim Reyog Kyai Lodra, Dorong Penguatan Ekosistem Pasca Pengakuan UNESCO

oleh -564 Dilihat
Istimewa

KILASJATIM.COM, Surabaya — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kesenian Reyog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia yang berkelanjutan, menyusul pengakuannya sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.

Hal tersebut disampaikan Khofifah saat menerima seniman Tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, beberapa waktu lalu. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari persiapan tim dalam mengikuti Festival Reyog Nasional Ponorogo (FRNP) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang.

Khofifah menekankan bahwa Reyog tidak sekadar dipandang sebagai pertunjukan seni, melainkan juga mengandung nilai filosofis yang kuat.

“Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi tentang keberanian, kebenaran, serta harmoni dalam keberagaman,” ujar Khofifah.

Menurut dia, kekuatan utama Reyog justru terletak pada nilai-nilai yang mampu membentuk karakter sekaligus menjadi landasan dalam membangun peradaban bangsa.

“Yang lebih penting dari festival adalah filosofinya. Reyog membawa semangat keberanian untuk memperjuangkan kebenaran,” tambahnya.

Khofifah menjelaskan, penguatan nilai tersebut menjadi semakin relevan setelah Reyog Ponorogo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding pada akhir 2024.

Ia menilai, pengakuan internasional tersebut harus diikuti langkah konkret untuk memperkuat ekosistem seni Reyog, mulai dari pelestarian, regenerasi, hingga keberlanjutan pertunjukan.

Salah satu perhatian penting dalam proses menuju pengakuan tersebut adalah aspek kesejahteraan satwa.

“Kita harus memastikan bahwa dalam pertunjukan Reyog tidak lagi menggunakan material dari satwa dilindungi,” ujarnya.

Khofifah juga menyebut, ekosistem Reyog terus berkembang seiring meningkatnya pengakuan global terhadap Ponorogo sebagai bagian dari jaringan kota kreatif dunia.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan melalui regenerasi pelaku seni dan penyelenggaraan event secara rutin.

Baca Juga :  Gubernur dan Pertamina Jamin Stok Solar Aman di Jatim

“Harus sering ada pentas supaya regenerasi berjalan maksimal. Dari situ akan tumbuh rasa bangga dan dedikasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari mengatakan pihaknya terus mendorong penguatan ekosistem melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Beberapa di antaranya melibatkan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, SMK 12 Surabaya, serta Universitas Negeri Surabaya, termasuk komunitas dan sanggar seni Reyog.

Selain itu, Disbudpar Jatim juga menjalin kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk mendukung pelestarian satwa, khususnya burung merak Jawa.

“Kami menjajaki kerja sama pengembangbiakan merak Jawa sebagai solusi keberlanjutan,” ujarnya.

Perwakilan Tim Reyog Kyai Lodra, Joko Winarko, mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap pelestarian seni tradisi tersebut.

“Keikutsertaan kami di FRNP bukan sekadar kompetisi, tetapi bentuk kebanggaan dan komitmen generasi muda dalam melestarikan Reyog,” katanya.

Dalam pertemuan itu, suasana berlangsung hangat melalui pemotongan tumpeng dan ramah tamah. Gubernur Khofifah juga memberikan dukungan dana pembinaan sebesar Rp25 juta untuk membantu persiapan tim menuju FRNP 2026.

Melalui langkah tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya menjaga Reyog sebagai identitas budaya yang terus hidup, berkembang, dan berdaya saing di tingkat global.(den)

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.