MALANG, Kilasjatim.com – Platform teknologi perhotelan RedDoorz mencatat kinerja positif di wilayah Malang Raya sepanjang tahun 2025. Perusahaan melaporkan total penjualan kamar dari seluruh mitra properti dan multi-brand mencapai lebih dari 278.000 unit.
Pertumbuhan ini didorong oleh penguatan infrastruktur konektivitas dan status Malang sebagai pusat edukasi serta destinasi wisata utama di Jawa Timur. Saat ini, RedDoorz telah mengoperasikan 164 mitra properti di wilayah tersebut.
General Manager Area East & Bali RedDoorz, Ovaldo Sanjaya, mengungkapkan bahwa daya tarik Malang terletak pada kombinasi fungsinya sebagai kota pendidikan dan tujuan wisata. Kemudahan akses membuat mobilitas wisatawan, terutama dari wilayah sekitar seperti Surabaya, terus meningkat.
“Tren perjalanan singkat masih mendominasi. Sebanyak 87 persen tamu atau sekitar 211.000 pemesanan memilih menginap selama satu malam. Selain itu, 62 persen pemesanan dilakukan di hari yang sama (last-minute booking),” ujar Ovaldo dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/3/2026).
Pertumbuhan permintaan akomodasi ini dirasakan langsung oleh para pemilik properti di Malang dan Batu. Indah Sri Handayani, pemilik Hotel RedDoorz Premium @ Jalan Cengkeh Malang, mengungkapkan bahwa sejak bergabung pada 2019, propertinya mampu menjaga rata-rata okupansi stabil di angka 60 persen.
“Bergabung dengan RedDoorz memberikan dampak yang sangat signifikan bagi bisnis kami. Selain membantu meningkatkan visibilitas properti di platform digital, dukungan tim lokal juga membantu kami mengelola operasional dengan lebih optimal,” ujar Indah.
Senada dengan Indah, Kristina Caturkaryani selaku pemilik SANS Arya Hotel Batu, juga merasakan performa serupa. Sebagai properti yang baru beroperasi dan langsung bernaung di bawah brand SANS pada awal 2025, hotelnya mencatat tingkat okupansi yang cukup tinggi yakni mencapai 75 persen.
“Kolaborasi dengan RedDoorz membantu kami mengelola properti dengan lebih profesional, terutama dalam hal pemasaran digital dan manajemen permintaan. Hal ini sangat membantu meningkatkan tingkat hunian dan stabilitas pendapatan,” kata Kristina.
Berdasarkan data Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, jumlah kunjungan wisatawan pada 2025 mencapai 3,4 juta orang, melampaui target 3,3 juta kunjungan (103 persen). Kampung Kayutangan menjadi primadona dengan kunjungan 5.000-6.000 orang per hari pada masa libur Nataru.
Sektor pariwisata Malang diprediksi akan terus menguat menyusul ditetapkannya kota ini sebagai pilot project program strategis nasional tahun 2026 oleh Bappenas. Fokus pengembangannya mencakup integrasi sektor pariwisata, pendidikan, dan pertanian.
Dari sisi aksesibilitas, kehadiran Jalan Tol Pandaan-Malang menjadi kunci utama. Ke depan, konektivitas menuju Malang Selatan akan diperkuat melalui proyek Jalan Tol Malang-Kepanjen yang kini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Tol ini diharapkan mempercepat akses menuju wisata alam di selatan, seperti jalur menuju Pantai Balekambang dan kawasan Bantur,” tutup Ovaldo. (SAG)
