KILASJATIM.COM, Surabaya – Di antara puluhan dokter baru yang diambil sumpahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rabu (11/2/2026), nama dr. Nuzlan Nuari menyimpan kisah tentang mimpi, keberanian, dan rencana untuk pulang.
Lahir di Morotai, Maluku Utara, 4 Desember 2001, Nuzlan tumbuh sebagai anak kedua dan satu-satunya laki-laki dari empat bersaudara. Hari itu, usai resmi menyandang gelar dokter, ia tak hanya memikirkan masa depannya sendiri, tetapi juga adik-adiknya. “Karena kakak saya dan saya sudah menjadi dokter, sepertinya dua adik saya juga ingin mengikuti jejak tersebut, sekaligus memenuhi harapan kedua orang tua,” ujarnya.
Kakak perempuannya, Millatul Fahiroh Thohir, lebih dulu menempuh pendidikan kedokteran di Hubei Polytechnic University, China, dan kini menjalani program penyetaraan di salah satu rumah sakit di Makassar. Meski berasal dari keluarga non kesehatan, ayahnya Abdul Karim dan ibunya Syarifah Aini dunia medis perlahan menjadi jalan hidup keluarga ini.
Bagi Nuzlan, perjalanan menjadi dokter bukan tanpa rintangan. Ia mengaku sempat kewalahan saat harus mempelajari anatomi secara detail dan beradaptasi dengan ritme pendidikan klinik. “Saya tidak membayangkan harus mempelajari anatomi secara sangat detail. Adaptasi juga saya rasakan ketika mengikuti kegiatan pelayanan kesehatan dan saat menjalani pendidikan profesi dokter,” katanya.
Pengalaman penting datang ketika ia mengikuti Program Elektif Internasional Health Medicine di RS Sultan Abdul Azis Syah, Universitas Putra Malaysia. Di sana, ia magang di bagian stroke center dan melihat langsung sistem pelayanan kesehatan yang berbeda. “Kami mahasiswa dari Unusa tidak kalah, baik dari sisi pengetahuan maupun keterampilan. Hal itu diakui langsung oleh dokter pendamping di sana. Kami bangga dengan pembelajaran dan fasilitas praktikum yang diberikan Unusa,” ujarnya.
Pengalaman internasional itu justru menguatkan keyakinannya untuk kembali ke Indonesia, khususnya Morotai, daerah yang menurutnya masih membutuhkan banyak tenaga medis. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan spesialis bedah saraf atau bahkan menempuh program doktor. “Saya tertarik pada jalur klinis sekaligus akademis. Mudah-mudahan keduanya bisa berjalan seiring,” ujar alumni SMA Negeri 1 Kraksaan, Probolinggo, tersebut.
Bagi Nuzlan, sumpah dokter bukan sekadar seremoni. Ia adalah janji untuk kembali. Dari Morotai ke Malaysia, lalu kembali ke tanah kelahiran, ia ingin memastikan ilmunya tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan.(tok)
