Emas Jadi Penyelamat Saat Ekonomi Bergejolak

oleh -488 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Lonjakan harga emas yang terjadi sepanjang 2025 hingga awal 2026 dinilai bukan sekadar gejolak pasar biasa, melainkan sinyal kuat meningkatnya kecemasan investor terhadap kondisi ekonomi global. Di tengah ketidakpastian, emas kembali dilihat sebagai aset pelindung nilai. Harga emas Antam sempat menembus Rp 3.100.000 per gram pada akhir Januari 2026, dengan kenaikan tahunan diperkirakan mencapai 50–60 persen. Meski belakangan mengalami koreksi, tren jangka panjangnya dinilai tetap mengarah naik.

Pakar ekonomi Universitas Kristen Petra Surabaya, Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., menjelaskan bahwa pergerakan harga emas perlu dilihat dalam dua horizon waktu. “Ini wajar, karena sebagian investor mulai menjual emas mereka untuk mengambil keuntungan (profit taking), seiring dengan inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang berangsur membaik,” kata dosen Program Studi Manajemen, Program Finance and Investment – School of Business and Management (SBM) UK Petra itu.

Namun untuk jangka panjang, ia menilai tekanan global masih akan mendorong harga emas naik. Penyebabnya dinilai kompleks, mulai dari eskalasi konflik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi sejumlah negara, hingga dinamika politik global yang menciptakan iklim investasi tidak stabil.

Dr. Nanik, yang telah mengajar sejak 1990, menyebut dunia sedang berada dalam fase ekonomi yang “tidak normal”, sehingga pola pergerakan emas pun tak lagi mengikuti kebiasaan lama. “Investasi emas ini sifatnya langka, tidak dapat dimanipulasi oleh kebijakan otoritas manapun. Berbeda dengan investasi lainnya, seperti saham atau kripto, yang suplainya dapat ‘diciptakan’ atau diatur,” urai Dr. Nanik.

Ia menambahkan bahwa emas tidak bisa muncul secara instan karena terikat proses alam yang panjang. “Kelangkaan alami inilah yang menjadikan emas sebagai tempat berlindung yang relatif aman saat instrumen investasi lainnya mulai kehilangan arah,” tegas dosen yang mengampu enam mata kuliah itu.

Baca Juga :  Mandiri Private Office Kini Hadir di Surabaya, Perkuat Layanan Perbankan Premium Bank Mandiri

Menurutnya, reli harga emas saat ini justru menjadi peringatan serius bagi kondisi ekonomi global. “Lonjakan tidak wajar ini jadi indikator kuat bahwa dunia tengah bergerak ke ambang resesi. Selama ego kekuasaan dan ketegangan geopolitik tetap bergejolak, serta aliansi antarnegara terus bergeser, maka harga emas akan terus mencari level tertinggi baru sebagai tempat bersandar para pemilik modal,” tambahnya.

Ia menggambarkan situasi ekonomi dunia saat ini sebagai “benang kusut” yang sulit diurai. “Di dunia yang semakin tidak menentu, emas memang menjadi sandaran nyata. Namun, stabilitas sejati terletak pada manusia sebagai pengelola mandat yang Tuhan percayakan di bumi. Investor harus tetap tenang agar bisa bertindak bijak tanpa tergesa-gesa. Sebab dengan ketenangan, kita mampu menjaga kewajaran harga dan melindungi nilai kekayaan di tengah badai ketidakpastian,” tutup Nanik yang juga mengajar Mata Kuliah Keuangan Personal.(tok)