KILASJATIM.COM, Jakarta – Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menegaskan peringatan 100 tahun Masehi Nahdlatul Ulama menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen NU dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang lebih mulia.
Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya dalam peringatan Harlah ke-100 NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu. Peringatan kali ini mengusung tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.
Gus Yahya menjelaskan tema tersebut dipilih karena sejak awal berdiri, visi NU sejalan dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, mulai dari prinsip kemanusiaan, keadilan, hingga komitmen menciptakan perdamaian dunia.
“NU tidak bisa dipisahkan dari Indonesia. Jika NU adalah pelita, maka tempat berpijaknya adalah Indonesia,” kata Gus Yahya.
Ia menegaskan, selama satu abad perjalanannya, NU konsisten menjadikan NKRI sebagai basis perjuangan untuk membangun peradaban yang berkeadaban, tidak hanya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga umat manusia.
Peringatan satu abad ini juga memiliki makna ganda. Dua tahun lalu, NU telah memperingati satu abad berdasarkan kalender Hijriah. Tahun ini, peringatan dilakukan berdasarkan hitungan kalender Masehi.
Sementara itu, Menteri Agama sekaligus Rais Syuriyah PBNU Nasaruddin Umar menilai NU telah menunjukkan kematangan sebagai organisasi keagamaan dan kebangsaan dalam perjalanan satu abad kiprahnya.
“Seratus tahun bukan waktu yang pendek. Di sini NU menunjukkan kedewasaan sebagai organisasi agama dan kebangsaan,” ujarnya.
Menag menyoroti peran pesantren sebagai jantung NU dalam membangun tradisi keilmuan Islam yang dinamis. Meski perbedaan pandangan kerap muncul, menurutnya, adab santri terhadap kiai menjadi fondasi kuat dalam menjaga harmoni. “Inilah kekuatan moral NU,” tegasnya.
Menag juga mengingatkan tantangan ke depan yang semakin kompleks, mulai dari percepatan perubahan sosial hingga potensi guncangan budaya dan ekonomi. Karena itu, ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif dan moderat.
“NU harus terus menjadi penyangga moderasi umat dalam bingkai NKRI,” katanya.
Peringatan Harlah ke-100 NU ini dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pejabat negara, antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menko PMK Pratikno, jajaran PBNU, pengurus wilayah dan cabang NU se-Indonesia, serta perwakilan duta besar negara sahabat. (cit)




